Blogger Widgets

Kamis, 11 Agustus 2011

“WHEN NEED MEET PASSION”

Oleh: Risye Dewi Larasati

Kalo anda merasa familiar dengan judul di atas, bisa saya pastikan anda berasal dari genre 80’an. Kenapa bisa ditarik kesimpulan seperti demikian ? tahun 80’an adalah booming-nya film-film romantis, ada satu film yang sangat lekat di ingatan saya sampai saat ini yaitu “When Harry Meet Sally”. Sebuah komedi romantis di tahun 1989 yang dibintangi oleh Billy Christal dan Meg Ryan, ditambah dengan soundtrack yang dinyanyikan oleh Harry Connick Jr yang mengantarkan dia meraih Grammy award pertamanya untuk kategori Jazz Male Vocal Performance. Bisa dibayangkan betapa  dasyatnya efek film ini buat saya sebagai ABG di era tersebut bahkan mungkin melebihi ketertarikan saya terhadap film “Catatan si Boy”.

Tapi kali ini saya tidak bermaksud membahas tentang film tersebut, lebih tepatnya mungkin sekedar sharing dengan anda semua mengenai perjalanan saya mengendarai sebuah kendaraan yang bernama “Kehidupan”. Saya, terlahir sebagai bungsu dari seorang ayah yang sangat demokratis serta berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan negeri di Bandung dan seorang ibu yang selalu punya akal untuk membantu suaminya mengepulkan asap dapur. Sebagai bungsu, saya tidak pernah diistimewakan, istilahnya kerennya saya mendapatkan “Equal Treatment”dengan kakak perempuan satu-satunya. Saya melewatkan masa remaja dengan peristiwa-peristiwa normal walaupun bukan terbilang anak manis dan penurut, yaahhhh kadang kadang dengan sedikit kebandelan yang masih bisa dibilang normal justru membuat saya merasa lebih hidup.

Kemudian sampailah saya kedalam satu fase yang dinamakan “Pilihan”. Fase pertama untuk hampir semua remaja adalah memilih Universitas beserta Jurusan yang diinginkan. Ada 2 pilihan yang disodorkan kepada saya, jurusan Akuntansi atau jurusan Marketing ? tentu saja karena merasa cukup cerewet saya memilih marketing tapi dengan lihainya ibu saya berhasil menggiring saya untuk memilih jurusan akuntansi (harusnya hal ini bisa saya sadari sewaktu zaman SMA ketika beliau memasukkan saya ke kursus akuntansi – mom you did the good job ! sigh !). But then, the show must go on ! Akhirnya saya bisa lulus dengan nilai yang cukup bagus. Dimulailah perjalanan saya di rimba dunia kerja tanpa saya tahu sebenernya apa yang saya cari.

 Pengalaman kerja pertama saya adalah sebagai FF& E Officer di salah satu perusahaan hospitality di Jakarta dan beberapa bulan kemudian akhirnya ditugaskan ke Bandung untuk meng-handle salah satu proyek hotel terbesar saat itu. Nah, mulailah saya memindahkan persneling pertama saya untuk bisa bertahan di dunia kerja. Saya mendapatkan pengalaman kerja yang totally different dengan jurusan yang saya pilih tidak sedikit pun saya berkutat dengan angka-angka, mungkin hal paling berguna adalah kemampuan bahasa asing saya yang bisa memperlancar urusan kerja yang memang mengharuskan berkomunikasi dengan bahasa asing (Again, thank to my mom yang sudah memaksa saya untuk ikutan kursus bahasa inggris selama saya kuliah !). Pengalaman kedua tidak jauh berbeda dengan pengalaman pertama,  kali ini adalah perusahaan Project Management dengan head office di British sono yang menghandle salah satu project besar di Bandung yang akhirnya harus hengkang dari Indonesia gara-gara nilai tukar dollar yang melambung dengan dasyatnya.

Saya tidak puas dengan perjalanan saya, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan persnelling saya ke gigi 2 dengan harapan speed saya bisa bertambah. Duduklan saya di institusi yang bergerak di bidang pendidikan, salah satu kursus bergengsi di Kota Bandung. Kali ini job desk saya sangat tepat dengan jurusan yang saya ambil ketika kuliah, akhirnya saya bisa ditasbihkan sebagai seorang Akuntan.

Demi segala EVIL dengan judul ketamakan saya merasa harus segera memindahkan lagi persnelling saya ke gigi ke 3. Dengan dalih berniat jadi pengusaha jadilah saya bergabung dengan sahabat-sahabat saya untuk mendirikan salah satu radio di kota kelahiran saya, Tasikmalaya.  Bertahun- tahun  dewa yang saya anut adalah dewa “Make Money Hand Over Fist” alias berjuang untuk mendapatkan uang untuk memenuhi semua keinginan dan kebutuhan (NEEDS)

Kemudian saya beralih ke dalam satu fase  dimana saya bisa merasakan kebenaran teori Maslow , mulailah saya flash back berdasarkan 5 Teori Maslow. Physiological Needs, Safety Need, Love/Belonging Need sudah saya lalui,  dan tangga yang saya injak sekarang adalah tangga yang bernama “Self Esteem” dengan item-item yang bernama Confidence, Achievement dan respect by others. Tinggal tangga terakhir yang masih menunggu untuk saya perjuangankan. Ternyata proses flash back cukup membuat saya merasa sakit karena saya sampai pada suatu titik dimana  saya belum bisa menemukan inti perjalanan saya selama ini. Saya masih mencari satu kata yang bernama “Passion” kata yang bisa membuat hati saya lega.

Co-incident ! satu kata dalam proses flash back saya. Secara tidak sengaja saya ditawari oleh seorang sahabat terbaik untuk bergabung dengan menjadi part timer di salah satu sekolah sebagai guru bahasa Inggris. Sekolah ini adalah sekolah yang juga ditujukan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus. Ketidak percayaan diri kembali mendatangi saya, ditambah dengan  pengalaman saya yang bisa dibilang nol dalam mengatasi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Hari pertama mengajar sama nervousnya dengan ketika saya menunggu pacar untuk pertama kalinya (lebay banget ya…!), mulailah saya mengenal Flarin, Ifan, Adit, Chacha, Gan-gan, Gery, Rivan,Sadam, Puja, Dede, Aza, Ari, Paula, Iqbal, Nisa, Levin, Diaz, Azman, vega, Ijal, Azka dan Pringgo.

Manjada Waajada ! saya mulai menerapkan mantera utama saya untuk mengajar mereka. Pelan-pelan saya mulai terbiasa dengan teriakan anak-anak sewaktu mereka tiba di sekolah, mulai terbiasa untuk menghadapi Puja dan Sadam yang tidak pernah lepas dari handphone mereka, mulai terbiasa dengan Igbal yang merasa menjadi American Superhero, mulai terbiasa dengan Ifan yang lengkap dengan secarik kain lapuk yang telah direndam dengan bensin, mulai terbiasa dengan khayalan-khayalan Vega dan Nisa serta hal-hal lain yang ternyata membuat hati saya lega. Di antara mereka saya merasa berarti, di antara mereka saya merasa bisa menjadi satu keping puzzle yang bisa melengkapi kehidupan mereka. Thanks God, Finally I found my  “Passion”. Ternyata tanpa saya sadari sudah berada dalam tangga terakhirnya Maslow yang bernama “Actualization” dimana Morality, Creativity , Problem Solving, Lack of Prejudice dan Acceptance of Fact menjadi unsur-unsur pendukungnya.

Sekarang, ketika saya bangun ada satu kepastian yang saya yakini “Indahnya hidup adalah ketika kita bisa berarti buat orang lain”. Itulah yang menjadi tujuan utama“When Need meet Passion” sama persis dengan “When Harry meet Sally” yang akhirnya menemukan soulmate mereka. Alloh tidak akan memberikan apa yang kita inginkan tetapi memberikan apa yang kita butuhkan ! Guys enjoy your ride ! Believing,Achieving ,Inspiring !

2 komentar:

  1. Menarik, memaknai hidup dengan memberikan arti bagi orang lain.
    Penuturannya enak, jempol deh, saya akan berlangganan blog ini.

    BalasHapus
  2. suatu ketika ...ada seseorang yang berkata kepada saya..." apabila hubungan seseorang dengan sesamanya sudah baik, maka hubungan dengan dia dengan Tuhan pasti baik "...bertahun saya mencoba mencari arti dari perkataan itu...dan akhirnya saya menemukannya disetiap belokan, di setiap terjalnya tanjakan, bahkan di setiap curammya jalan yang saya lalui....bener kata Dewi...Enjoy your Ride...karena setiap kayuhan adalah pembelajaran....jempoooool

    BalasHapus