Berawal dari kebosanan menonton program-program TV yang isinya tidak jauh dari sinetron serta gosip infotainment, akhirnya pilihan pun jatuh pada program TV cable. But too bad, kok hampir semua channel isinya program “Chef-Chef”-an yang sedang marak akhir-akhir ini dan tentu saja sudah merambah pula ke program TV nasional kita. Media yang seharusnya kreatif sudah menjadi tidak kreatif karena permintaan pasar (sigh….!). Namun tiba-tiba secara tidak sengaja saya melihat satu sosok yang sangat familiar di ingatan saya, Omigod…ternyata Alec Baldwin ! Siapa sich yang tidak kenal Alec Baldwin ? Aktor ganteng yang sangat populer di era 90-an sekaligus suami dari aktris sexy Kim Bassinger. Dia bermain untuk salah satu sitkom di NBC yang berjudul 30’s Rock. Sitkom dengan setting 30 Rockefeller Plaza Newyork yang berkisah tentang seluk beluk dunia per-televisian. Sountrack dengan nuansa jazz dimana suara clarinet, bass,saxophone serta string yang cukup kental ditambah lagi dengan vocal Gladys Knight & The Pips membuat sitkom ini menjadi satu tontonan yang enak untuk dinikmati.
Ada sesuatu diantara kunyahan keripik kentang dan akting Alec Baldwin yang mengantarkan dia meraih Emmy Award plus 2 Golden Globe untuk sitkom ini. Ada yang tiba-tiba terlintas di benak saya, berhungan dengan with ‘30-an’ . Ehmm ..Oke…I’m in middle of 30’s and single ! Usia dan status yang sering kali dipertanyakan oleh emak bapak, kakek-nenek, om-tante, sepupu, keponakan…Bahkan mungkin ketua RT dan ketua RW pas waktunya perpanjangan KTP.. (another sigh…!). Kalo saja ada survey tentang usia berapakah yang paling menakutkan bagi wanita, bisa dipastikan sebagian besar akan menyebutkan usia 30-an. Oke…Let’s try to find out about being 30’s !
Bertahun-tahun lalu setelah yel-yel dua anak cukup dan peraturan pemerintah tentang usia minimal untuk melangsungkan pernikahan, saya pernah berandai-andai untuk menikah di usia 27 tahun dimana impian saya pada saat itu adalah sudah lulus kuliah, punya karier yang mapan dan tentu saja se-sosok “Prince Charming” yang akan mewujudkan indahnya hidup dengan slogan “Live Hapilly Ever After !”. But in fact, life doesn’t turns as we planned before. Melewati angka 27 hasilnya beberapa kali putus cinta dan masih menjadi kutu loncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain dengan lompatan karier yang bisa dibilang biasa-biasa saja. Sementara dipagar sebelah yang tentu saja kelihatannya lebih hijau, teman-teman wanita saya kebanyakan berkarier dan punya posisi yang cukup mapan di dunia perbankan yang memang pada saat itu punya prestise yang cukup tinggi, suami yang punya karier sama bagus-nya serta bayi bayi mungil yang melengkapi kehidupan mereka. Am I a loser ?! Owhhhh noooo……..
Karena ketidak-relaan saya untuk dikategorikan sebagai “Loser”, mulai-lah saya memperjuangan status saya sebagai “30’s – Single – and Fun Fearless Woman”. Perjuangan saya dimulai dengan secara tidak sengaja ikut salah satu komunitas jalan-jalan yang punya motto “Ringan sama-sama dijinjing, berat pake porter ajaaaa…”. Trip pertama saya bersama mereka adalah menapaki jalanan menuju “Kampung Baduy” dengan berjalan kaki selama kurang lebih 4 jam. Hampir sebagian dari anggota wanita di komunitas ini berstatus sama seperti saya, tapi kok mereka tampak enjoy dan tidak mempermasalahkan being 30’s.
So, Finally my chit-chat yang tentu saja dibarengi dengan senyum dan wajah yang dipasang entah itu polos atau bloon saya juga tidak yakin yang mana , akhirnya membuahkan hasil. Here the result guys !
DO NOT AFRAID OF BEING 30’s
ü Semua produk entah itu kecantikan entah itu vitamin sampai susu sekali pun berlomba-lomba untuk membuat produk unggulan untuk wanita usia 30-an such as cream kerutan, susu buat tulang, vitamin untuk kulit dan masih banyak lagi. In fact instead of being afraid of being 30’s mustinya kita justru berbangga hati karena kita jadi center of attention dari berbagai produk.
ü Buat yang doyan hang out sampai hang over sekalipun di usia 30-an itu sangat menguntungkan, di semua tempat gaul terutama tempat-tempat hang out di Bali dan di luar negeri kita boleh masuk and enjoy the party (of course you should have a magic paper or magic card called money and credit card !) kalau pun ada petugas yang minta ID card kita itu sich formalitas aja secara tampang kita udah sangat meyakinkan .
ü Buat yang ingin segera terbebas dari omelan-omelan (yang sebenernya ungkapan kasih sayang ) dari sang emak atau bapak tercinta karena mereka masih menerapkan jam malam, kita bisa request untuk bisa tinggal terpisah dengan mereka. Dengan alasan yang sangat reasonable yaitu “Sudah saatnya hidup mandiri” kita bisa tinggal sendiri entah itu beli, nyicil rumah atau apartement sendiri. Coba dech bayangin bagaimana senangnya bisa mendandani rumah/apartemen sendiri yang bener-bener sesuai dengan selera kita . Malahan orang tua kita akan berbangga hati dengan kemandirian kita dan itu merupakan salah satu bentuk balas budi kita kepada mereka.
ü Usia 30-an adalah usia dimana orang tua dan saudara-saurada kita berada pada titik kulminasi paling tinggi alias sudah sangat capek menanyakan kepada kita kapan kita akan menikah dan bahkan mungkin sudah bosan menjodohkan kita dengan hasil yang tidak memuaskan. Yang pada akhirnya mereka akan give up dan balik lagi pada satu kepasrahan “Jodoh itu ada di tangan Tuhan”. Kita pun bisa sedikit berlapang dada dengan berkurangnya pertanyaan-pertanyaan mereka.
ü Ekstrim-nya nich di usia 30-an buat mereka yang suka sesama jenis mungkin saja sudah merasa bebas dan aman untuk mempublikasikan diri. Untuk sebagian lagi yang merasa sudah nyaman being single dan memutuskan untuk tidak menikah bisa memproklamirkan diri untuk ”unmarried”. Nach yang punya dilema mencintai suami orang lain mungkin saja akhirnya direstui oleh keluarganya dengan dalih ”Mungkin ini sudah jodohnya” padahal mungkin capek juga melihat anaknya melajang terus.
Dari fakta-fakta yang saya kumpulkan di sela-sela perjalanan, akhirnya saya bisa mendapatkan jurus jitu untuk tidak takut menapaki usia 30’an . Makna dari usia 30’an adalah percaya diri dan bertanggung jawab, dimana kita bisa menentukan pilihan hidup kita sendiri dengan konsekwensi-konsekwensi yang setidaknya bisa kita perkiraan sebelumnya dengan kematangan pemikiran seorang manusia dewasa. Seperti salah satu dialog di serial 30’s Rock ”Because I believe life is for the living I believe in taking risk and bitting off more than you can chew !” . So, is there any other reason for you being afraid of 30’s? Hey guys….Being’s 30’s Let’s get rock !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar