Blogger Widgets

Minggu, 04 Maret 2012

‘Batu Loncatan’ Itu Bernama Televisi

Oleh: Nunu Vandanoe

Buset! Baca judul di atas jangan-jangan yang kepikiran adalah berbagai macam upaya orang untuk sukses dengan cara masuk tivi. Boleh aja sih mikir begitu... hihihi... Tapi saya sih saat ini lagi gak pengen ngobrolin yang seriusan begitu. Cuma ingin cerita tentang televisi ukuran 21 inch merek Konka (btw, itu bikinan Cina, Jepang, apa Korea ya? #pentiiing, hihi...) yang telah beralih fungsi menjadi ‘batu loncatan’ buat kucing saya, Ninis. Jadi ya, dia itu kalau mau main ke tempat teman-temannya di gang belakang rumah suka males lewat jalan ‘seharusnya’ yang mana kudu muter ke depan rumah baru melipir ke gang. Dia pinter dong membaca situasi dan kondisi plus properti yang bisa dimanfaatkan sebagai jalan pintas. Maka loncatlah dia ke atas televisi lalu loncat lagi ke lubang di plavon lalu tadaaaa…sampai deh di atap rumah. Habis itu dia tinggal loncat lagi ke atap-atap rumah lain yang kebetulan berdempetan sama rumah kita itu.

Jadi… Bagaimana ceritanya itu tivi bisa jadi kerdil begitu fungsinya?
Cuma jadi ‘pijakan’ buat kucing saya. Sudah lama sih sebetulnya, sekitar 3-4 tahun ini keluarga kami tidak menonton televisi. Pertama, karena semua anggota keluarga kami yang jumlahnya tiga orang itu memiliki kesibukan sendiri-sendiri dalam rentang waktu cukup lama setiap harinya. Bapak kerja dari subuh hingga sore, Mama jaga kantin dari pagi sampai sore juga. Dan saya si anak tunggal kesayangan mereka ini suka sok sibuk kuliah, mengajar, dan siaran. Padahal yang dominan adalah main! Ngehehehe… Maka demikianlah… Kami baru berkumpul kembali sore hari. Beberes rumah, menyiapkan (baca: beli) makan malam, lalu istirahat. Bukannya gak ada waktu untuk tivi ya, tapi lebih tertarik untuk ngobrol dan bercerita saja satu sama lain. Mama saya itu gak pernah kehabisan topik buat ngobrol, bapak saya mendengarkan sembari memanjakan kucing kami yang sering lupa kodrat itu (bisa jadi dia merasa jadi anak bungsunya bapak saya! Huh!). Dan saya juga gak mau kalah bercerita dengan seru menyaingi Mama. Ya begitu deh akhirnya, televisi jadi terbengkalai dan berubah fungsi hihihi.

Tapi pernah kok di suatu masa lalu *cailaaa*, televisi begitu mempesona bagi kami sekeluarga. Jadi sebelum punya tivi sendiri, saya ini sering nomaden dari rumah tetangga yang satu ke rumah tetangga yang lain cuma untuk menonton tivi. Apalagi di hari Minggu. Di mana serial Doraemon, Candy Candy, Remi, dan Power Ranger (versi Kimberly sebagai Ranger Pink yang manis dan pacaran sama Tommy itu lhoooo) gak boleh terlewat. Penting, supaya hari Senin punya bahan obrolan update di sekolah. Segitunya kakaaa! Nah mungkin lama-lama kedua orangtua saya hatinya terenyuh sekaligus jengkel karena anak semata wayangnya kelayapan terus ke rumah tetangga-tetangga. Tahu-tahu di suatu hari Minggu sekitar 15 tahun yang lalu, sebuah becak berhenti di depan rumah. Suara bapak saya memanggil-manggil dari dalam becak. Badannya sebagian terhalang sebuah kotak kardus besar bertuliskan: ‘SAMSUNG’. Waaah ternyata itu televisi pertama di rumah kami. Jadilah hari ke hari semenjak hadirnya si kotak bergambar ukuran 14 inch merk SAMSUNG itu , suasana jadi meriah. Padahal salurannya cuma satu: TVRI Bandung! Darso, Nining Meida, Caca Handika, Cucu Cahyati, dan Barakatak menemani saat-saat penting dan gak penting di rumah kami. Beberapa bulan kemudian kebutuhan kami akan keriaan yang lebih kekinian makin meningkat. Maka kami nebeng pemancar tetangga sebelah yang jauh lebih canggih dan bisa menangkap saluran-saluran macam RCTI, SCTV, bahkan MTV! Tapi ya namanya ‘nyolok’ alias nebeng dan gratisan pula, kami kudu pasrah ketika sudah pewe nonton satu acara di channel ini, tiba-tiba pemandangan di layar berganti ke acara lain di channel itu. Jadi kalau tetangga pemilik antenna yang kami tebengi itu sedang menonton pertandingan tinju di hari Minggu sementara saya ngebet nonton Doraemon, maka saya harus teriak dari luar pagar rumahnya: “Aa…hoyong kana Doraemon-keun lah, sakedap weh!” (Terjemahan: “Mas, pindahin ke channel yang ada Doraemon-nya dong…sebentaaar saja!”)  Dengan suara memelas dan pasang tampang anak anjing. Hihihihi…

Televisi pernah jadi pengikat batin antara saya dan Mama ketika saya remaja dan sangat menggandrungi sepakbola. Mama yang sejak lama mengidap insomnia itu senang saja ketika saya bangun dini hari untuk menonton pertandingan bola. Jadilah kita berdua soulmate nonton bola yang asik bahkan saling mengingatkan jika malam nanti ada pertandingan krusial. Kita dong selain menonton permainannya juga bisa haha-hihi ngerumpiin Andriy Shevchenko yang kalo di Hollywood gantengnya setara Keanu Reeves. Lalu berapi-apinya Mama saya menyemangati Genaro Gattuso yang tenaga dan permainannya segagah banteng, dan mewek bahagia berjamaah ketika AC Milan menjuarai Piala Champion 2002-2003.

Tapi ketika saya beranjak dewasa, televisi seperti kehilangan pesonanya. Mungkin karena teralihkan kesibukan dan hal-hal penting lain yang lebih urgent buat diurusi ketimbang nonton tivi. Dan jujur deh.. Kami sekeluarga tidak merasa kehilangan apa-apa ketika tidak menonton televisi. Biasa saja. Sering juga berpikir kok bisa seperti itu ya? Tidak bermaksud membandingkan keadaan dengan keluarga lain yang kalau pagi hari meriah dengan celotehan dubber kartun impor dan malamnya nyumpah-nyumpah ketika tokoh kesayangan di sinetron senantiasa dizalimi si antagonis dengan segala tipu daya dan kelicikannya, tapi mungkin… barangkali… subyektif lho ini versi saya sendiri… kami sekeluarga merasa kebutuhan kami akan hiburan, kebutuhan kami akan informasi, kebutuhan untuk dilihat, dan didengar sehingga merasa ‘penuh’… sebagian besar terpenuhi akibat saling mengisi lewat obrolan dan candaan di dalam rumah. Meskipun yah sering juga dianggap alien ketika diajak ngobrol tentang suatu peristiwa atau seseorang yang sedang gencar muncul di tivi sayanya gak dong. Hahahaha. Misalnya Ustad Solmed. Duh! Siapa sih tuh orang sebetulnya. Gak niat juga mencari tahu sih hihihi…

Tentunya keberadaan televisi di setiap rumah memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Sarana untuk mendapatkan hiburan, pengisi waktu ketika santai bersama keluarga, atau cuma dinyalakan sebagai rungon-rungon alias tamba tiiseun (terjemahan: pengisi keheningan). Tapi tentu, seharusnya, kita lebih tertarik menikmati apa yang terjadi dalam kehidupan nyata. Kisah-kisah menarik dari orang-orang terdekat kita, memahami bahwa orang bisa sangat bahagia tanpa harus mencukur habis bulu kakinya (iklan pencukur bulu kaki itu beneran merendahkan banget wanita-wanita yang kakinya berbulu deh…include gue gitu…), dan yang pasti bisa bebas dari stress jika menghindari tayangan berita kriminal yang herannya kenapa ditayangkan pas tengah hari ketika cuaca lagi panas-panasnya.

Memang kalau baca di artikel-artikel sih menonton tivi ternyata banyak sekali dampak buruknya. Salah satunya stress dan rentan penyakit jantung. Wajar kali…kalau setiap saat kita-kita yang perempuan ini dibombardir kampanye bahwa putih itu cantik, rambut lurus bak penggaris itu manis, dan ngiler gila lihat kegantengan dan kecantikan seleb di infotainment. Oiya dong! Dibalik sisi buruk terdapat pula sisi baiknya. Kalau kita agak picky konten tontonan, banyak juga yang bagus-bagus. Program jalan-jalan dan wisata itu misalnya, setidaknya muncul keinginan buat plesir dan meninggalkan sejenak zona nyaman rumah kita untuk melihat ada apa sih di kota tetangga dan di sisi lain Indonesia saat ini.

Dan tentunya, si tivi yang entah bikinan Cina, Korea atau Jepang itu tetap setia nangkring tanpa pamrih di tempatnya selama ini. Meski fungsinya sejak lama sudah berganti, yakni sebagai batu loncatan bagi kucing saya ketika ingin naik ke atap rumah dan bersosialisasi dengan teman-temannya…


*catatan: semoga kucing saya aja yang gak behave, memperlakukan tivi dengan cara yang gak sopan seperti itu :p

2 komentar:

  1. wah kucing yang kreatif hehee jadi inget kucingku waktu nonton sepak bola di tv kucingku ikutan juga ampe nggabrug tv di rumahku,.,hehee kaya yang ngerti ajah ya kucingku,.,
    nih liat videonya http://biroe88.cahbag.us/2010/03/kucing-sang-bobotoh-persib.html

    kalo saya si jarang nonton tv ya paling jadi pajangan ajah heheee,.,.atau tempat buat kumpul keluarga sambil nonton tv,,,hehee

    KampusTI.info

    BalasHapus
  2. Enya ih, ayeuna mah teu payu nya tipi teh..

    Barudak leutik jaman ayeuna ge leuwih resep ka warnet, ngorek komputer, atawa justru ngelapan layar tablet.

    BalasHapus