Oleh: Nunu Vandanoe
![]() |
Jadi… Bagaimana ceritanya itu
tivi bisa jadi kerdil begitu fungsinya?
Cuma jadi ‘pijakan’ buat kucing saya. Sudah lama sih sebetulnya, sekitar 3-4 tahun ini keluarga kami tidak menonton televisi. Pertama, karena semua anggota keluarga kami yang jumlahnya tiga orang itu memiliki kesibukan sendiri-sendiri dalam rentang waktu cukup lama setiap harinya. Bapak kerja dari subuh hingga sore, Mama jaga kantin dari pagi sampai sore juga. Dan saya si anak tunggal kesayangan mereka ini suka sok sibuk kuliah, mengajar, dan siaran. Padahal yang dominan adalah main! Ngehehehe… Maka demikianlah… Kami baru berkumpul kembali sore hari. Beberes rumah, menyiapkan (baca: beli) makan malam, lalu istirahat. Bukannya gak ada waktu untuk tivi ya, tapi lebih tertarik untuk ngobrol dan bercerita saja satu sama lain. Mama saya itu gak pernah kehabisan topik buat ngobrol, bapak saya mendengarkan sembari memanjakan kucing kami yang sering lupa kodrat itu (bisa jadi dia merasa jadi anak bungsunya bapak saya! Huh!). Dan saya juga gak mau kalah bercerita dengan seru menyaingi Mama. Ya begitu deh akhirnya, televisi jadi terbengkalai dan berubah fungsi hihihi.
Cuma jadi ‘pijakan’ buat kucing saya. Sudah lama sih sebetulnya, sekitar 3-4 tahun ini keluarga kami tidak menonton televisi. Pertama, karena semua anggota keluarga kami yang jumlahnya tiga orang itu memiliki kesibukan sendiri-sendiri dalam rentang waktu cukup lama setiap harinya. Bapak kerja dari subuh hingga sore, Mama jaga kantin dari pagi sampai sore juga. Dan saya si anak tunggal kesayangan mereka ini suka sok sibuk kuliah, mengajar, dan siaran. Padahal yang dominan adalah main! Ngehehehe… Maka demikianlah… Kami baru berkumpul kembali sore hari. Beberes rumah, menyiapkan (baca: beli) makan malam, lalu istirahat. Bukannya gak ada waktu untuk tivi ya, tapi lebih tertarik untuk ngobrol dan bercerita saja satu sama lain. Mama saya itu gak pernah kehabisan topik buat ngobrol, bapak saya mendengarkan sembari memanjakan kucing kami yang sering lupa kodrat itu (bisa jadi dia merasa jadi anak bungsunya bapak saya! Huh!). Dan saya juga gak mau kalah bercerita dengan seru menyaingi Mama. Ya begitu deh akhirnya, televisi jadi terbengkalai dan berubah fungsi hihihi.
Tapi pernah kok di suatu masa
lalu *cailaaa*, televisi begitu mempesona bagi kami sekeluarga. Jadi sebelum
punya tivi sendiri, saya ini sering nomaden dari rumah tetangga yang satu ke
rumah tetangga yang lain cuma untuk menonton tivi. Apalagi di hari Minggu. Di
mana serial Doraemon, Candy Candy, Remi, dan Power Ranger (versi Kimberly
sebagai Ranger Pink yang manis dan pacaran sama Tommy itu lhoooo) gak boleh
terlewat. Penting, supaya hari Senin punya bahan obrolan update di sekolah.
Segitunya kakaaa! Nah mungkin lama-lama kedua orangtua saya hatinya terenyuh
sekaligus jengkel karena anak semata wayangnya kelayapan terus ke rumah
tetangga-tetangga. Tahu-tahu di suatu hari Minggu sekitar 15 tahun yang lalu,
sebuah becak berhenti di depan rumah. Suara bapak saya memanggil-manggil dari
dalam becak. Badannya sebagian terhalang sebuah kotak kardus besar bertuliskan:
‘SAMSUNG’. Waaah ternyata itu televisi pertama di rumah kami. Jadilah hari ke
hari semenjak hadirnya si kotak bergambar ukuran 14 inch merk SAMSUNG itu ,
suasana jadi meriah. Padahal salurannya cuma satu: TVRI Bandung! Darso, Nining
Meida, Caca Handika, Cucu Cahyati, dan Barakatak menemani saat-saat penting dan
gak penting di rumah kami. Beberapa bulan kemudian kebutuhan kami akan keriaan
yang lebih kekinian makin meningkat. Maka kami nebeng pemancar tetangga sebelah
yang jauh lebih canggih dan bisa menangkap saluran-saluran macam RCTI, SCTV,
bahkan MTV! Tapi ya namanya ‘nyolok’ alias nebeng dan gratisan pula, kami kudu
pasrah ketika sudah pewe nonton satu acara di channel ini, tiba-tiba
pemandangan di layar berganti ke acara lain di channel itu. Jadi kalau tetangga
pemilik antenna yang kami tebengi itu sedang menonton pertandingan tinju di
hari Minggu sementara saya ngebet nonton Doraemon, maka saya harus teriak dari
luar pagar rumahnya: “Aa…hoyong kana Doraemon-keun lah, sakedap weh!”
(Terjemahan: “Mas, pindahin ke channel yang ada Doraemon-nya dong…sebentaaar
saja!”) Dengan suara memelas dan pasang
tampang anak anjing. Hihihihi…
Televisi pernah jadi pengikat
batin antara saya dan Mama ketika saya remaja dan sangat menggandrungi
sepakbola. Mama yang sejak lama mengidap insomnia itu senang saja ketika saya
bangun dini hari untuk menonton pertandingan bola. Jadilah kita berdua soulmate
nonton bola yang asik bahkan saling mengingatkan jika malam nanti ada
pertandingan krusial. Kita dong selain menonton permainannya juga bisa
haha-hihi ngerumpiin Andriy Shevchenko yang kalo di Hollywood gantengnya setara
Keanu Reeves. Lalu berapi-apinya Mama saya menyemangati Genaro Gattuso yang
tenaga dan permainannya segagah banteng, dan mewek bahagia berjamaah ketika AC
Milan menjuarai Piala Champion 2002-2003.
Tapi ketika saya beranjak
dewasa, televisi seperti kehilangan pesonanya. Mungkin karena teralihkan
kesibukan dan hal-hal penting lain yang lebih urgent buat diurusi ketimbang
nonton tivi. Dan jujur deh.. Kami sekeluarga tidak merasa kehilangan
apa-apa ketika tidak menonton televisi. Biasa saja. Sering juga berpikir kok
bisa seperti itu ya? Tidak bermaksud membandingkan keadaan dengan keluarga lain
yang kalau pagi hari meriah dengan celotehan dubber kartun impor dan malamnya
nyumpah-nyumpah ketika tokoh kesayangan di sinetron senantiasa dizalimi si antagonis
dengan segala tipu daya dan kelicikannya, tapi mungkin… barangkali… subyektif lho
ini versi saya sendiri… kami sekeluarga merasa kebutuhan kami akan hiburan,
kebutuhan kami akan informasi, kebutuhan untuk dilihat, dan didengar sehingga
merasa ‘penuh’… sebagian besar terpenuhi akibat saling mengisi lewat obrolan dan
candaan di dalam rumah. Meskipun yah sering juga dianggap alien ketika diajak
ngobrol tentang suatu peristiwa atau seseorang yang sedang gencar muncul di
tivi sayanya gak dong. Hahahaha. Misalnya Ustad Solmed. Duh! Siapa sih tuh
orang sebetulnya. Gak niat juga mencari tahu sih hihihi…
Tentunya keberadaan televisi di
setiap rumah memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Sarana untuk mendapatkan
hiburan, pengisi waktu ketika santai bersama keluarga, atau cuma dinyalakan
sebagai rungon-rungon alias tamba tiiseun (terjemahan: pengisi keheningan). Tapi
tentu, seharusnya, kita lebih tertarik menikmati apa yang terjadi dalam
kehidupan nyata. Kisah-kisah menarik dari orang-orang terdekat kita, memahami
bahwa orang bisa sangat bahagia tanpa harus mencukur habis bulu kakinya (iklan
pencukur bulu kaki itu beneran merendahkan banget wanita-wanita yang kakinya
berbulu deh…include gue gitu…), dan yang pasti bisa bebas dari stress jika
menghindari tayangan berita kriminal yang herannya kenapa ditayangkan pas
tengah hari ketika cuaca lagi panas-panasnya.
Memang kalau baca di
artikel-artikel sih menonton tivi ternyata banyak sekali dampak buruknya. Salah
satunya stress dan rentan penyakit jantung. Wajar kali…kalau setiap saat
kita-kita yang perempuan ini dibombardir kampanye bahwa putih itu cantik,
rambut lurus bak penggaris itu manis, dan ngiler gila lihat kegantengan dan
kecantikan seleb di infotainment. Oiya dong! Dibalik sisi buruk terdapat pula
sisi baiknya. Kalau kita agak picky konten tontonan, banyak juga yang
bagus-bagus. Program jalan-jalan dan wisata itu misalnya, setidaknya muncul
keinginan buat plesir dan meninggalkan sejenak zona nyaman rumah kita untuk
melihat ada apa sih di kota tetangga dan di sisi lain Indonesia saat ini.
Dan tentunya, si tivi yang
entah bikinan Cina, Korea atau Jepang itu tetap setia nangkring tanpa pamrih di
tempatnya selama ini. Meski fungsinya sejak lama sudah berganti, yakni sebagai
batu loncatan bagi kucing saya ketika ingin naik ke atap rumah dan
bersosialisasi dengan teman-temannya…
*catatan: semoga kucing saya aja yang gak behave, memperlakukan tivi dengan cara yang gak sopan seperti itu :p

wah kucing yang kreatif hehee jadi inget kucingku waktu nonton sepak bola di tv kucingku ikutan juga ampe nggabrug tv di rumahku,.,hehee kaya yang ngerti ajah ya kucingku,.,
BalasHapusnih liat videonya http://biroe88.cahbag.us/2010/03/kucing-sang-bobotoh-persib.html
kalo saya si jarang nonton tv ya paling jadi pajangan ajah heheee,.,.atau tempat buat kumpul keluarga sambil nonton tv,,,hehee
KampusTI.info
Enya ih, ayeuna mah teu payu nya tipi teh..
BalasHapusBarudak leutik jaman ayeuna ge leuwih resep ka warnet, ngorek komputer, atawa justru ngelapan layar tablet.