Oleh Nunu Vandanoe*
Terus terang saya termasuk tipe orang gak tahan godaan dalam hal membelanjakan uang. Istilah seremnya: boros! Padahal yang dibeli juga bukan barang-barang mahal, cuma printilan-printilan yang gak jelas fungsinya tapi lucu tampangnya. Dududu… Misalnya, kaleng-kaleng cakep aneka bentuk, warna, dan ukuran yang memelas minta dibawa pulang dari sebuah toko kado ;) Saat itu memang pas lagi ada uang, dan harga satu buah kaleng baik yang berukuran besar maupun kecil adalah sama, enam ribu rupiah. Karena saya pada dasarnya gak tegaan :p, kan gak mungkin Cuma beli satu kaleng, sementara kaleng-kaleng yang lain ditinggalkan begitu saja. Tau-tau pas nyampe kasir, saya harus membayar empat puluh delapan ribu rupiah untuk total 8 buah kaleng bekas yang saya beli! Hal yang sama juga sering terjadi ketika saya masuk ke toko buku terus lihat tempat pensil yang bentuknya unik, serutan berbentuk kacang tanah, bahkan buku imut berisi puluhan resep sambel yang sampe sekarang gak pernah dipraktekan satu pun, dibeli juga. Itu belum apa-apa dibandingkan dengan uang yang sudah saya keluarkan untuk membeli banyak sekali awul-awul alias baju-baju second, baik di Tasik maupun di luar kota.Maaaak, padahal yah seringnya barang-barang lucu itu begitu sampai rumah hanya disimpan sampai bulukan lalu ‘lenyap’ dari penglihatan karena tertimbun rombongan printilan baru yang saya beli di lain waktu. Pernah saya terbengong-bengong mendapati begitu banyak tas-tas kecil berjejalan di lemari baju. Jadi kemana aja saya selama ini?
Jadi begini, baju-baju yang sering saya pakai, malah biasanya ditaruh di pinggir tempat tidur begitu saja setelah disetrika. Alasannya: tentu saja supaya mudah ditemukan, ketimbang menaruhnya di dalam lemari dan bercampur dengan baju awul-awul bermodel gak lazim yang entah kapan akan saya pakai. Akhirnya begitulah…lemari pakaian beralih fungsi jadi sarang barang printilan. Balik lagi ke soal tas, ternyata meskipun saya sering beli tas toh yang saya pakai setiap hari cuma si backpack hitam imut merk Export itu. Mau kerja kek, nongkrong, atau bepergian jauh, tetep aja si backpack item yang saya ajak. Pun demikian nasibnya dengan serutan, kaleng-kaleng, baju awul-awul, dan entah apalagi.Lalu suatu hari iseng mencatat barang-barang printilan yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun beserta harganya, meski banyak yang sudah lupa, tapi ya dikira-kira aja seingetnya hehehehe….Bujubuset! Totalnya mencapai angka jutaan! Betul saudara! Jutaan! Jadi barang-barang yang gak juntrung fungsinya ini kalo saya timbun dalam bentuk uang, bisa mengantarkan saya ke pelaminan! *Loh???* Hahahaha…intermezzo doang ah, biar gak patah hati dengan kenyataan bahwa saya selama ini teramat boros dan buruk dalam mengatur keuangan.
Tapi sekarang sudah mendingan dong…dan saya yakin bukan hanya saya yang mengalami hal begini. Masalahnya kalo terus menyalahkan diri sendiri juga gak bagus, yang sudah melayang ya sudahlah biarkan terbang, jalan ke depan masih panjang. Ciyeeeeh :p Setelah teruji dan terbukti bahwa hanya barang-barang yang jelas fungsi dan gunanya saja yang setia, maksudnya yang sering saya pakai entah itu baju, tas, dan lain-lain, sejak saat itu sudah mulai pakemin rem hehehehe…jadi kalau lihat barang lucu tapi fungsinya gak jelas atau ternyata saya sudah punya barang dengan fungsi yang sama, gak jadi beli. Meski setan menari membujuk-bujuk biar beli. Hedeeeeh…
Kenyataannya dengan setia pada barang yang kita miliki, keuangan jadi lebih sehat dan bisa dialokasikan untuk hal-hal yag lebih penting. Misalnya gadget, pakai sampai maksimal sampai benar-benar gak berfungsi baru beli lagi. Baju juga begitu. Beli yang benar-benar akan dipakai dan sesuai kebutuhan, meski tetap harus punya simpanan baju bagus untuk kepentingan tertentu. Nah, kalo kita kebetulan surplus dan bingung duitnya harus diapakan, jangan pikir panjang, ditabung aja langsung! Kebingungan yang melanda ketika banyak duit juga seringkali menyeret kita pada kebangkrutan yang menyakitkan. Hahahaha…ternyata yah, setia pada barang saja sudah sedemikian menyejahterakannya. Apalagi setia pada satu cinta. Aw! Aw!
*Penulis sedang berusaha sembuh dari penyakit kronis bernama BOROS*
Hahaha ... keren banget Nu. Boros menang isn't the best. keep struggling to fight this habit! Ayo nabung! nabung!
BalasHapus