oleh: Nunu Vandanoe
Kembali lagi pada pertanyaan iseng saya tadi, mengapa makanan harus diberi bumbu? Hmmm…biar terasa enak? Aha! Rasa! Tak terbayangkan menyantap ayam goreng yang dimasak begitu saja tanpa dilumuri bumbu apa-apa, bahkan garam sekalipun. Warnanya boleh tetap kuning keemasan seperti di iklan-iklan minyak goreng itu ketika diangkat dari penggorengan. Ketika dimakan? Jangankan kenikmatan, tawar saja sepertinya yang terkecap lidah.
Jadi teringat masa-masa magang WWF di Wakatobi. Saya tinggal dan bekerja di kabupaten yang terdiri dari beberapa pulau di provinsi Sulawesi Tenggara, Wakatobi, tepatnya di sebuah pulau sekaligus kecamatan bernama Kaledupa. Dengan seringnya muncul di program-program liburan atau jalan-jalan di televisi, sudah mengidentikkan diri sebagai sebuah daerah dengan kekayaan bawah laut yang berlimpah. Baik untuk memanjakan mata dengan menyelami keindahan terumbu karangnya, atau aneka hidangan hasil laut untuk menyenangkan lidah. Setiap hari makan seafood! Yeah! Tapi tunggu, beragam ikan dengan ukuran raksasa dibandingkan dengan ikan air tawar yang selama ini kami kenal, cumi-cumi, maupun kepiting, bergantian mengunjungi meja makan kami, tetap saja terasa ada yang kurang.
Di Jawa, dengan rempah yang berlimpah segalanya begitu kaya rasa. Termasuk hidangan laut di restoran-restoran seafood. Kepiting saos padang misalnya. Terbayang kan bagaimana cita rasanya? Sementara di Kaledupa? Mereka memang kaya dengan hasil laut, ibaratnya cuma melempar kail setengah gak niat saja, ikan yang di dapat sudah sedemikian banyaknya. Bumbu masakan di sana sangat mahal. Misalnya saja cabe. Jangan harap di pasar tradisional Kaledupa akan menemukan gunungan cabe merah seperti di pasar-pasar serupa di Jawa. Cabe yang mereka kenal adalah sejenis cabe rawit berwarna merah terang dengan ukuran lebih kecil lagi dari cabe rawit biasa. Segenggaman tangan anak kecil harganya seribu rupiah. Belum lagi tomat. Tomat pun menjadi komoditi yang mahal di sana, padahal paling sering digunakan sebagai bahan utama colo-colo (sambal khas dari Indonesia timur). Maka saya dan teman-teman yang bersama-sama berangkat ke sana, sering memutar otak bagaimana caranya ‘memberi rasa’ pada hidangan laut yang disajikan Mama Kepala Dapur. Bukan karena tidak sedap, tapi lebih karena lidah kami sangatlah manja dan ketergantungan pada makanan yang serba berbumbu dan kaya rempah seperti di Jawa. Pernah kami membelikan Mama Kepala Dapur sebotol besar saos tiram dari seberang pulau. Tak jarang pula kami ke pasar untuk membeli banyak persediaan bumbu masak, sekaligus melengkapinya dengan bumbu masak instan dalam kemasan. Dipikir-pikir, saya ini belum bisa diajak susah ternyata hahahaha. Tapi tak apa toh dalam keadaan kecanduan rasa yang akut, kreativitas jadi meningkat. Pernah beramai-ramai di dapur mewujudkan kepiting dengan bumbu saos padang seperti yang selama ini kami idam-idamkan. Bener-bener deh kerja keras untuk mengumpulkan bumbunya sampai lengkap hahaha. Niaaat bener yak? :p
Tapi tentu masakan khas Kaledupa dengan rempah seadanya yang selama ini mereka punya pun tetap kami sukai. Misalnya saja parende. Sup ikan dengan bumbu sederhana berupa garam, asam jawa (pohonnya banyak sekali di pulau Kaledupa ini), kunyit, dan kemangi. Rasanya luar biasa segar! Cocok sekali dengan udara panas di sana. Kemudian ada lagi ikan perangi. Ikan mentah yang dagingnya dilumuri perasan jeruk nipis dan langsung dimakan seperti halnya sashimi. Tidak amis, segar saja adanya.
Pun dengan hidup. Ada yang lebih baik dijalani apa adanya, tapi tak jarang butuh pengolahan dan rasa ekstra. Pernah di awal saya mengajar dan berkecimpung di dunia pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, saat itu ada dua kelas setingkat taman kanak-kanak, dan terdapat lima orang anak pada masing-masing kelas dengan kategori pengelompokan yang berbeda. Sebut saja kelompok A dan B. Kelompok A adalah kelas dengan anak-anak yang masih sangat hiperaktif, rentan tantrum, dan semuanya bermasalah dalam komunikasi juga hal-hal lainnya. Sementara kelompok B adalah kebalikannya. Anak-anak di kelas ini sudah lebih manis, menguasai kemampuan pra akademis, dan lebih mudah dikondisikan. Ketika itu disiapkan 4 orang guru terdiri dari dua orang perempuan (salh satunya saya) dan dua orang laki-laki. Dalam bertugas, keempat orang ini akan dipasangkan berlainan jenis kelamin dengan pertimbangan ada figur guru yang keibuan dan penuh kasih, juga keberadaan guru laki-laki diperlukan untuk menangani anak tantrum mengingat dibutuhkan energi teramat besar untuk melakukan hal tersebut. Yah biasanya urusan otot begitu seringkali di serahkan pada laki-laki hahahaha….
Dalam masa persiapan, kami berempat dikumpulkan. Saat itu langsung diberitahu saya akan dipasangkan dengan siapa, teman saya satunya lagi dengan siapa. Saya berpartner dengan seorang teman laki-laki sederhana, rendah hati, tapi rajin mempelajari hal-hal baru berkaitan dengan pekerjaannya. Setelah dibriefing ini dan itu, tiba saatnya penentuan di kelompok mana kami di tempatkan. Manajemen memberi kesempatan pada kami untuk memilih, dan…kelompok B sudah dipilih terlebih dahulu oleh teman saya dan partnernya. Saya dan rekan kerja saya tidak berkomentar melainkan langsung pening dan lemas membayangkan harus berada bersama anak-anak kelompok A setiap hari. Saat itu saya benar-benar masih blank dari mana harus memulai atau harus bersikap bagaimana. Sudah sih mengikuti training bersama terapis senior tapi sungguh jauh berbeda suasana terapi individu dan terapi kelompok. Jadi mari saya beri gambaran lebih jelas: seorang anak dengan potensi tantrum yang tinggi plus hiperaktif dan destruktif dikali lima! Itulah gambaran anak-anak di kelas A.
Partner saya ini kebetulan orangnya kalem dan tak pernah mengeluh. Dengan sendirinya memberi ketenangan pada saya dalam mengajar anak-anak. Seiring berjalannya waktu, kelas kami yang selalu gaduh oleh jeritan, tangis, dan amukan anak-anak berubah menjadi kelas yang hidup dan seru! Secara ajaib kami mulai mengenali karakter setiap anak dan akhirnya mengetahui pula cara untuk menangani mereka ketika tantrum. Lelah namun senang. Lebam dan luka cakar di lengan kami, terbayar dengan tawa anak-anak ini. Ya! Lambat laun mereka mulai mengenali bahwa tertawa itu senang rasanya. Kami tidak berpikir lagi tentang kelas B dengan anak-anaknya yang manis dan tertib. Kami bahagia dengan acara kejar-kejaran di dalam kelas, terbirit-birit menuju lemari yang digoyang-goyang salah seorang anak hingga televisi yang ditaruh di atasnya hampir jatuh ke lantai. Tak ingin lagi bertukar tempat dengan teman-teman guru kelas B yang bisa bersantai di kala istirahat tiba, sementara kami harus selalu berjaga di dekat ayunan, di ujung perosotan, sambil mengawasi satu-persatu anak-anak kami. Lengah sedikit akan terdengar jerit. Entah dicubit atau mencubit bahkan gigit-menggigit.
Hingga suatu hari, saya dan partner saya yang hebat itu dipanggil ke ruangan pimpinan kami. Kami diberitahu bahwa selama ini, kelas kami yang kasarannya gerombolan siberat, sudah terlihat menemukan bentuknya. Orangtua mereka pun merasakan adanya perubahan dan mengalami kemajuan. Kami ternganga. Apa iya? Belum habis kekagetan kami, masih ditanya hal lainnya lagi. Kira-kira masih sanggup tidak mengajar satu kelas lagi? Glekkkh! Satu kelas lagi? Berarti lima orang anak lagi? Kami diam, saling pandang, lalu mengangguk. Iya tak apa, kami sanggup asal diberi waktu untuk adaptasi dan tidak dibebani dulu dengan target-target kemajuan tertentu. Bayangkan saja. Kami masihlah hijau!
“Kelas B”, katanya. Apa? Iya, kami nantinya juga akan mengajar anak-anak kelas B. Pimpinan saya bilang, kedua orang teman yang mengajar kelas B harus banyak belajar lagi dengan mengikuti sesi terapi individu bersama terapis senior lebih lama lagi. Kelas B yang digadang-gadang akan sangat pesat kemajuannya dengan modalitas yang lebih mapan dibanding kelas A, dalam kenyataann perkembangannya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kami diam saja karena tidak merasa telah melakukan hal luar biasa terhadap anak-anak kami di kelas A. Yang kami lakukan adalah menyayangi dan memperlakukan mereka sewajarnya dan mengajari mereka sesuai kebutuhannya. Itu saja. Akhirnya, kami berdua mengatur jadwal, pagi di kelas A dan menghabiskan siang bersama kelas B. Tak terasa setahun berlalu, 7 dari 10 anak-anak kami masuk SD atau bersekolah di tingkat yang sama di tempat lain. Penghargaan para orangtua membuat kami malu pada diri sendiri. Sungguh, yang hebat adalah anak-anak mereka sendiri. Kami hanya menemani mereka bermain dan menghabiskan hari.
Mundur lagi beberapa waktu ke belakang, ketika kami tak punya pilihan karena pilihan paling enak sudah menjadi milik teman kami, saat itu kami hanya pasrah. Tapi kami memilih tidak menyerah. Kami memilih ‘memberi rasa’ pada sisa pilihan yang awalnya terasa tidak enak itu. Kami olah apa yang kami punya, karena sesungguhnya tidak pernah ada yang sia-sia. Karena kami percaya, maka hal itu mewujud nyata. Banyak pilihan rasa. Manis, pahit, asin, pedas, dan asam. Bukannya tanpa makna. Bahkan pahit, rasa yang paling tidak disukai di dunia memiliki perannya sendiri.
Pahit identik dengan rasa obat. Rasa pahit memberitahu kita betapa tak enaknya sakit, mengingatkan agar kesehatan senantiasa dihargai dan diupayakan.
Pernah dengar peribahasa ‘nasi sudah menjadi bubur’? Sesuatu yang bermakna terlanjur. Terlanjur belum tentu segalanya hancur. Nasi sudah menjadi bubur…biar saja. Bubuhkan garam, merica, penyedap bila suka, lalu taburkan irisan cakwe, suwiran daging ayam goreng, daun bawang dan remasan kerupuk, maka tadaaaa…! Jadilah bubur ayam yang sedap rasanya hehehehe…Jadi terserah kita mau membubuhkan rasa apa ke dalam belanga kehidupan kita.
*Penulis adalah perempuan berusia 26 tahun yang gemar makan apa saja dan…nambah! Hahaha..

suka dengan paragraf terakhir, enlightened, dan tercengang dengan footnote, perempuan 26th gemarmakan dan nambah, so clean-handed (hahaha)
BalasHapusbtw untuk admin, tolong diperbaiki timezone-nya, komen saya hari ini kok tanggal 16?
BalasHapusSuka makan dan nambah piring juga yah kang? (Nambah piring doang, hehe..) Hatur nuhun pisan nih :)
BalasHapusI am impressed! <3
BalasHapus~Reni Wulandari
Hai rumpitawati Reni, keep Rumpi-ing yaaa :)
BalasHapusdibalik rasa banyaaak cerita :D
BalasHapus