“Your Job is not your career”, adalah mantra ajaib Rene Suhardono sang Career Coach kondang dalam buku yang berjudul sama. Lama...sekali saya coba cerna kalimat itu. Selama ini kita tahu bahwa karir adalah perjalanan pekerjaan kita. Perjalanan yang dimaksudkan untuk semakin berjalannya waktu, semakin tinggi posisinya semakin besar tanggung jawabnya. Dan ehem… Semakin besar dan banyak kompensasinya (baca: gaji, upah, bonus, dll ). Pemahaman ini kentara sekali di mata orang tua. Orang tua biasanya akan berharap anda mendapat pekerjaan tetap dengan jalur posisi, tanggung jawab, dan kompensasi bisa lebih berkembang. Lebih sempit lagi, pekerjaan semacam itu biasanya adalah dengan menjadi pegawai negeri sipil, pegawai di bank, atau segala sesuatu yang berbau kantor dengan banyak jenjang jabatan untuk diraih. Dan semakin bagus ‘karir’ anda itu, anda akan semakin terhormat anda di mata mertua… ehem… masyarakat.
Pandangan pekerjaan sebagai karir menentukan hidup kita dengan ukuran kesuksesan semacam besar gaji, barang-barang yang bisa anda beli dengan gaji tersebut, tingkat jabatan, ternasuk juga gengsi dari jabatan tersebut. Terdengar materialistik alias matre, bukan? Kita tahu kalau hidup dengan standar prestasi semacam itu, kita bisa sakit jiwa. Apalagi kalau kita menuntut diri sendiri untuk selalu punya gadget tercanggih, baju ter-update, tas ter mahal, mobil termahal, dan barang-barang yang ter-ter-ter lainnya. Standar-standar yang selalu cepat berubah dan makin tinggi dalam waktu yang singkat, apalagi gadget. Semakin berubah, kita semakin bekerja ekstra keras untuk memenuhi standar yang cepet berubah-ubah itu. Kalau saya, pada suatu titik, saya akan capek, dan mungkin sakit jiwa beneran. Maka saya pilih ‘karir’ yang lainnya. Karir yang bagaimana?
Barangkali sudut pandangnya Anies Baswedan bisa memperjelas. Kemarin saya menonton Tea Time with Desi Anwar dengan secara tidak sengaja. Saya menyimak wawancara santai-nya dengan Desi Anwar.
ANies Baswedan adalah akademisi dengan banyak peran. Pada Pemilu 2009, Anies menjadi moderator dalam acara debat calon presiden 2009. Pada akhir 2009, Anies dipilih oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi anggota Tim-8 dalam kasus sangkaan pidana terhadap pimpinan KPK yaitu Bibit dan Chandra. Anies, yang bukan berlatar belakang hukum, dipilih menjadi Juru Bicara Tim-8. Penyampaiannya yang sistematis, tenang dan obyektif dianggap turut membantu menjernihkan suasana dalam suhu politik yang agak memanas pada masa itu (Tim-8 bekerja non-stop selama 2 minggu di bulan November 2009).
Ketika menjabat menjadi rektor termuda di Universitas Paramadina, Anies Baswedan menggagas suatu gerakan untuk menyelamatkan pendidikan Indonesia yang bertajuk Indonesia Mengajar. Karena itulah pada April 2010, Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April (2010). Dalam edisi khusus yang berjudul “20 Orang 20 Tahun”, Majalah Foresight menampilkan 20 tokoh yang diperkirakan skan menjadi perhatian dunia. Mereka akan berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang. Nama Anies disematkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota House of Representative AS, Paul Ryan. (sumber: wikipedia)
Anies baswedan menjelaskan bahwa semuanya itu hanya peran. Mengutip salah satu dramawan klasik, aktor yang bagus seharusnya bagus dalam peran apapun. Kalau sang aktor bagus ketika hanya memerankan peran tertentu, artinya bukan aktornya yang bagus. Mungkin hanya perannya saja yang bagus. Namun jika Seorang aktor bisa hebat ketika memerankan peran apapun, maka dia adalah aktor yang bagus. Begitulah Anies Baswedan berprinsip. Kita harus menjalankan semua peran dengan bagus, karena kita adalah aktor yang bagus. Bukan aktor yang bagus karena menerima peran yang bagus. Begitu juga dengan pekerjaan dan jabatan, mereka hanya peran. Menurutnya dalam ‘peran’ apapun, kita harus punya sikap dan integritas yang bagus dalam melakukannya, meskipun ‘peran’ nya kecil saja.
Jika pekerjaan hanya peran, jadi karir itu apa? Sahabat saya berkeyakinan, ketika kita tidak sedang mendapat pekerjaan yang bagus, ya kerjakan saja yang di depan mata dengan baik. Insya Allah kalau kita bisa berhasil di pekerjaan yang tidak kita harapkan itu, kepercayaan akan datang sendirinya dan menuntun kita ke pekerjaan yang lebih hebat.
Menurut sahabat saya itu, kepercayaan adalah indikasi kesuksesan yang penting dan tak berbatas waktunya. Nggak kenal kata pensiun! Sampai kita mati, kerpercayaan adalah indikasi seberapa baguskah kita jadi orang. Dan… uang dan jabatan akan mengekor kepercayaan, bukan? Lebih tepatnya bonus yang menyenangkan tentunya… Karena kepercayaan, entah apa anda merasakannya juga, jauh lebih menentramkan. Di tahap ini, ucapan Rene suhardono menjadi sangat jelas. Bahwa Your Job is not your career… But Life is.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar