Blogger Widgets

Kamis, 04 Oktober 2012

Mempertanyakan “Your Job is Not Your Career”

Oleh: Rina Amalia Budiati
“Your Job is not your career”, adalah mantra ajaib Rene Suhardono sang Career Coach kondang dalam buku yang berjudul sama. Lama...sekali saya coba cerna kalimat itu. Selama ini kita tahu bahwa karir adalah perjalanan pekerjaan kita. Perjalanan yang dimaksudkan untuk semakin berjalannya waktu, semakin tinggi posisinya semakin besar tanggung jawabnya. Dan ehem… Semakin besar dan banyak kompensasinya (baca: gaji, upah, bonus, dll ). Pemahaman ini kentara sekali di mata orang tua. Orang tua biasanya akan berharap anda mendapat pekerjaan tetap dengan jalur posisi, tanggung jawab, dan kompensasi bisa lebih berkembang. Lebih sempit lagi, pekerjaan semacam itu biasanya adalah dengan menjadi pegawai negeri sipil, pegawai di bank, atau segala sesuatu yang berbau kantor dengan banyak jenjang jabatan untuk diraih. Dan semakin bagus ‘karir’ anda itu, anda akan semakin terhormat anda di mata mertua… ehem… masyarakat.

Selasa, 02 Oktober 2012

Perjalanan Bukan Pelarian (Traveling Is Not Escaping)

Oleh: Nunu Vandanoe


Sebetulnya ini adalah sari dari obrolan bersama si pacar beberapa bulan lalu. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas, meski sudah lama berlalu. Setelah traveling ke Bromo, dia terlihat khawatir sekali dan mau tidak mau harus memberitahukan kekhawatirannya padaku. Menurutnya, saat itu yang ada di pikiranku cuma traveling dan traveling. Sehingga seringkali hilang fokus dan tidak tuntas mengerjakan hal-hal lain yang lebih penting. Keinginanku untuk traveling dengan menggebu sudah masuk kategori impulsif. Aku bisa lho saat itu mengalokasikan uang yang sebetulnya untuk hal-hal yang lebih perlu demi traveling. Itu tidak sehat. Demikian si pacar mengingatkan. Awalnya tentu saja aku merespon dengan defensif dong ;) Tapi di dalam hati mengiyakan juga, apa yang dibilang si pacar itu benar adanya.

Lantas aku merenung, kembali bertanya-tanya, sebetulnya mengapa aku begitu menggebu-gebu bepergian jauh seorang diri. Jawabannya adalah kabur! Yap, escape, melarikan diri, apalah itu istilah lainnya. Bepergian sendiri memang nikmat, itu betul. Mencapai tempat-tempat yang membuat kita tertantang, itu memuaskan, memang benar adanya. Tapi setelah itu apa? Hampa. Kosong. Kembali ke rumah dan bertemu lagi dengan kenyataan.

Aku sangat menyukai traveling, ya itu betul. Aku ingin bepergian ke lebih banyak tempat, itu juga betul. Tapi jujur, aku tidak ingin menghabiskan seluruh hidupku melakukan perjalanan ke tempat-tempat baru. Trinity Traveler, she's cool... Tapi aku gak mau berakhir dengan bepergian terus-menerus, tak ingin juga menjadikannya profesi. Aku punya rumah yang kusebut MAMAH dan BAPAK. Aku punya pekerjaan yang bagus, teman-teman yang hebat dan menyenangkan, dan aku masih ingin mengembangkan potensi-potensi lain yang aku punya.

Lagipula aku ingin traveling-ku lebih sehat dan menentramkan. Aku akan tetap melakukannya, hanya saja dengan lebih sehat: tidak meninggalkan hutang pekerjaan, tidak bokek bin bangkrut ketika kembali ke rumah, dan...harus senang ketika esok hari akan kembali menyongsong rutinitas-rutinitas yang selama ini berperan memolesku sehingga aku menjadi lebih baik. Lagipula segala hal-hal rutin itulah yang menjadi sumber dana travelingku... hahahahhaha...

Jujur deh, rasanya menyedihkan sekali ketika bepergian hanya untuk 'melarikan diri'. Karena mau tidak mau aku harus kembali. Bepergian sebagai pelarian hanya menunjukkan bahwa selama ini aku kurang bersyukur dengan kehidupan yang aku punya. Maka dari itu, kesadaran baru muncul dalam diriku: Traveling sebagai hadiah bagi diri sendiri karena sudah mengerjakan apa-apa yang bisa kukerjakan dengan sangat baik. Dan...kupastikan mulai saat ini, begitu kembali dari traveling, tak akan ada laagi wajah meringis merogoh-rogoh setiap kompartemen di ransel dan dompet mencari uang yang barangkali masih tersisa... hahahahaha...