Oleh: Risye Dewi Larasati
“Neng….bade senam sareng Pak Menteri” …kalimat pertama yang dilontarkan mang becak yang saya
tumpangi. Entah dari mana mang becak ini menebak, padahal arah yang saya sebutkan bukan arah ke
tempat acara senam, dan baju yang saya pakai pun bukan baju senam. “Tadi wengi
aya pak menteri sareng cepot di alun-alun, eta ku hebatnya neng… menteri teh
nyetir nyalira”. Euphoria macam apa yang melanda mang becak ini, yang jelas
sepanjang kayuhannya terus diikuti dengan cerita semalam nonton wayang bersama
bapak menteri. Terselip nada bangga dalam suaranya bahwa dia sudah melihat
bapak menteri dari dekat.
Lain mang becak lain pula dengan saya, undangan melalui sms yang saya terima dari penerbit buku pak menteri-lah yang
membuat saya dengan rela ikut acara tersebut.
Selanjutnya, momen yang kurang lebih berdurasi satu jam itulah yang
akhirnya bisa menjungkir balikan pikiran yang selama ini tertanam dalam otak
saya, tertulis dengan plang besar : apatisme.
Seperti apa sih sosok seorang Dahlan Iskan dimata
saya? Jujur setelah peristiwa Mei yang menggemparkan
jagat politik Indonesia ,
saya tidak hapal dan tidak pernah peduli siapa yang menjabat menteri ini atau
menteri itu. Toh hapal semua nama menteri–menteri pun tidak merubah kondisi negara
ini yang setelah reformasi pun masih banyak carut marutnya. Tak banyak hal
yang saya ketahui tentang beliau, yang jelas bapak menteri yang satu ini
menjadi buah bibir seantero nusantara setelah aksi heroiknya di salah satu ruas
jalan tol di Jakarta .
Namun sayangnya hal tersebut hanya
melintas di benak saya tidak meninggalkan kesan apapun. Buat saya aksi yang
termasuk heroik itu adalah ketika para pemuda berhasil merobek bendera belanda
di Hotel Yamato Surabaya dan mengibarkan bendera merah putih…that’s it…!
Warga negara seperti apakah saya ? yang
jelas saya masih mengaku orang Indonesia
sangat cinta dengan negara dan budaya Indonesia tapi sekaligus juga
setengah tidak peduli dengan kehidupan berpolitik dan bernegara di negeri ini.
Saya bisa dengan santainya meninggalkan TPS sewaktu pemilihan presiden di tahun
2009 hanya karena TPS di kedubes penuh dan akhirnya saya melenggang dan
menikmati secangkir kopi di salah satu kedai kopi . Tapi apakah saya
benar-benar tidak peduli ? Jauh di dalam lubuk hati, saya tetap menginginkan Indonesia
yang damai dan sejahtera. Namun melihat
kenyataan yang ada, problematika negeri ini tak ubahnya seperti bola kusut yang
entah ada dimana ujungnya. Saya seorang warga negara biasa , bukan orang kaya
dan tidak berkuasa. saya hanya bisa menjalani hidup ini apa adanya dan yang
terpenting adalah bagaimana saya bisa bertahan hidup…itu saja !
Mendengar kegigihan seorang Dahlan Iskan buat saya
sebelum hari ini sama seperti fairy tale yang selalu diawali
dengan kata kata….once upon a time…..dan hari ini saya bertekad untuk
membuktikan fairy tale itu ! Sambil duduk bersama Kang Iwok Abqory
mendengarkan salah satu staff Noura Book
penerbit buku “Sepatu Dahlan” bercerita tentang hal-hal lucu tentang sang Inspirator
yang terkenal dengan “Manufactoring of Hope” itu,
akhirnya tiba juga bapak menteri yang telah ditunggu oleh puluhan orang yang
siap bersenam pagi walaupun mungkin sebelumnya sebagian dari mereka seperti
saya tidak pernah bersenam pagi sekalipun. Bapak menteri datang dengan satu
mobil mewah bersama seorang pengusaha Tasik yang cukup terkenal . Jujur
kedatangan bapak menteri dengan memakai mobil mewah sedikit membuyarkan harapan
saya, dalam benak saya menteri yang terkenal sederhana itu datang ke tempat
acara dengan berjalan kaki. Saya benar- benar sudah masuk dalam fairy tale yang
saya ciptakan sendiri.
Kesan pertama yang membuat sedikit kecewa ditambah
dengan demam sisa semalam, saya pun hanya duduk selonjoran di depan lobby mall
memandang orang-orang yang dengan hebohnya bersenam pagi. Tidak betah hanya
berselonjoran, dengan rasa penasaran yang masih tinggi saya menatap dari
kejauhan sosok bapak menteri yang sudah berada di stage dengan seorang instruktur
senam. Dengan handuk putih yang dililit seenaknya dileher beliau, tiba-tiba senyum
kecil terbentuk di bibir saya…lucu juga ya, beliau tampak bersemangat mengikuti
gerak gerik sang instuktur sambil terus menerus tersenyum tidak peduli lengak
lenggok badannya dilihat oleh puluhan mata, beliau terus bergerak ! Aneh bin
ajaib acara senam bersama bapak menteri tiba-tiba menjadi suatu tontonan yang
cukup menghibur entah mengapa saya juga tidak tahu yang jelas semua merasa
terhibur terbukti dari wajah wajah sumringah yang ada di depan saya.
Photo bersama pak menteri ! Rasanya
itu yang diinginkan oleh hampir semua orang yang berada di tempat ini, layaknya
seorang selebritis yang sudah makan asam garam, beliau dengan lincahnya
memenuhi permintaan photo dan tanda tangan. Lagi-lagi senyum pak menteri
berhasil menghipnotis semua orang termasuk saya ! Tak terasa saya masuk ke
dalam kumparan orang-orang yang berjejal-jejal menyodorkan buku untuk beliau
tanda tangani. Seumur hidup saya tidak pernah meminta tanda tangan seorang
penulis walaupun saya termasuk dalam kategori kutu buku, satu-satunya penulis yang sangat ingin saya temui adalah
Pramoedya Ananta Toer yang menurut saya adalah penulis hebat yang pernah
dipunyai negeri ini. Tapi sekarang hari ini, saya menyodorkan sebuah buku untuk
ditanda-tangani entah untuk alasan apa.
“Siapa namanya?” pertanyaan
itu mengembalikan kesadaran saya diantara kerumunan banyak orang. Ternyata
beliau masih sempat menanyakan nama saya untuk ditulis dan ditanda-tangani di
buku, dalam kondisi yang seramai itu saya pikir beliau hanya akan menanda
tangani saja padahal masih ada belasan orang di belakang saya yang masih
menunggu giliran dan saya yakin semua akan ditanya hal yang sama.
Lepas dari kerumunan orang yang masih narsis
berphoto dengan bapak menteri, tiba-tiba saya teringat pada satu talkshow dari Charles
Bonar Sirait mengenai pentingnya “Personal Branding”. Sekali lagi
saya menghela napas, pak menteri yang masih asyik dikerumuni di depan sana ternyata secara
disadari atau tidak oleh beliau telah berhasil mengukuhkan personal brandingnya
di masyarakat. Jujur dan sederhana, dua kata itulah yang mampu diungkapkan
apabila orang bertanya tentang beliau. Belum tuntasnya rasa penasaran saya
terhadap sosok pak menteri akhirnya membuat saya googling di internet tentang
apa dan siapakah beliau sebenarnya.
Saya hanya bisa terpekur menatap layar monitor
walaupun bacaan di dalamnya sudah tuntas saya baca. Ada sebersit rasa malu di dalam hati saya,
beliau yang usianya jauh di atas saya masih punya mimpi tentang negeri ini dan
mau berusaha untuk mewujudkannya. Sementara saya hanya sibuk mengurus diri
sendiri dan sibuk berkeluh kesah tentang negeri ini tanpa ada satu usaha
apapun. “Bagaimana Indonesia bisa sejahtera, kalau orang kaya-nya hanya 20% ?” itu
salah satu statement beliau yang sedikit membuka mata hati dan pikiran saya. Kalau
saja lebih dari setengahnya usia produktif masyarakat Indonesia berpikiran tidak
peduli sama seperti saya, mau kapan negara ini akan maju ?
Ternyata mimpinya beliau tentang negeri ini
diwujudkan dengan menjadi orang besar, orang yang bisa di teladani, orang yang
bisa menginspirasi . Ada satu tekad kecil yang tidak terucapkan, satu tekad
buat seorang Dahlan Iskan, semangat baru untuk menjadi orang besar !
Dan saya baru sadar bahwa semangat tanpa lelah yang
beliau punya itu datang dari senyuman……Ya Senyum Dahlan ! Senyum Dahlan yang tidak
pernah berhenti !



