Blogger Widgets

Kamis, 03 November 2011

Best Fathers I Ever Met!

   Oleh: Risye Dewie Larasati


Lembaran terakhir dari novelnya Arswendo Atmowiloto yang berjudul “Dua Ibu” memberikan pemahaman yang lebih tentang arti seorang ibu. Sekalipun tidak mengandung dan melahirkan anaknya, kasih sayang, cinta, dan pengorbanan seorang ibu dengan segala ketulusan hati menjadi sedemikian dashyatnya. Selain ibu yang begitu berarti untuk seorang anak, ada sosok lain yang tak lepas dari kehidupan kita sebagai manusia. Belahan jiwa ibu…Tumpuan hidup ibu…Bapak…Ya, Bapak ! 


Seperti apakah seorang bapak yang anda ingat? Apakah seperti yang dikatakan Ikal dalam Novelnya Andrea Hirata, “ Namun ayahku, ayah juara satu seluruh dunia, arsitek kasih sayang yang tak pernah bicara, selalu mampu mengubah hal-hal sederhana menjadi begitu mempesona”, ataukah sesederhana ayah Alif Fikri dalam novel 5 Menara, atau bahkan mungkin mirip Pak Bei alias Raden Ngabehi Sestrokusuma yang begitu berkuasa di novel Canting-nya Arswendo Atmowiloto? Selalu ada cerita tentang bapak, bahkan ketika rangkaian kata pun tidak mampu untuk mengungkapkan. Ada detak yang tetap bisa dirasakan apabila ingatan tentangnya mengaliri benak anda. Tidak hanya bapak kandung saja, ada bapak-bapak lain yang hadir memberi arti, menuntun serta menunjukkan kepada saya arti hidup dan kehidupan.


Inilah bapak-bapak terbaik yang saya temui!


Bapak. Ingatan akan kepulan rokok serta secangir kopi yang selalu menemani, adalah ingatan tentang  bapak dari sahabat sekaligus teman sejiwa yang sudah saya anggap orangtua sendiri. Dengan postur tinggi langsing sebagai seorang pejabat pemerintah, beliau selalu  berapi-api ketika berbicara bahkan sangat lantang jika ada sesuatu yang menurutnya bertolak belakang dengan kepentingan masyarakat. Kegemarannya  mengkliping berita-berita yang menurutnya menarik membuat tak seorang pun berani menyentuh, walaupun akhirnya tumpukan itu berakhir di gudang tanpa sepengetahuannya. 


Di balik ketegasan yang terkadang membuat kita tidak berani menatap matanya, begitu banyak perhatian yang bapak berikan. Kenekatannya menyetir tengah malam untuk bertemu anak cucunya, pesan-pesan tentang cara terhormat untuk menghargai dan dihargai orang lain, bagaimana lucunya beliau ketika melukiskan seseorang yang menurutnya bodoh dan tolol karena terlalu gila hormat, semuanya masih terasa begitu jelas.  Bapak yang merupakan pusat kehidupan di rumah, ternyata punya cara lain mengungkapkan rasa cinta  terhadap keluarganya, tidak dengan bahasa puitis ataupun dengan berlian sekalipun. Kecintaan terhadap istrinya diungkapkan dengan ledekan-ledekan yang terkadang membuat kita tergelak. Dalam pidato perkawinan anak perempuan satu-satunya, Bapak rela mempersonifikasikan dirinya sebagai ular ganas. Bahkan ada titik airmata yang dengan kuat ditahannya serta akhirnya harus terbata-bata ketika melepaskan anak perempuan satu-satunya untuk berumah tangga. Bapak yang selalu menepuk dan mengelus kepala saya ketika saya bisa membuatnya tertawa!


Yangkung. Seumur hidup baru kali ini ada seseorang yang saya panggil “Yangkung”, hidup puluhan tahun di lingkungan yang serba sunda dan dengan lantang menyatakan “Sundanesse Uber Alles” akhirnya luluh juga berhadapan dengan kerendah-hatian beliau. Bapak dari soulmate terbaik, mantan kepala sekolah yang juga piawai sebagai dalang, serta kecintaan dan kegemarannya membaca buku membuat saya merasa menemukan teman sehati. Dengan penuh semangat  setiap petak dari kios-kios di Palasari disusuri demi “Serat Centhini” versi bahasa jawa yang dipesan Yangkung, juga buku “Babad Tanah Jawi” yang sekaligus bisa dijadikan bantal kemudian ditasbihkan sebagai pengantar tidur selama bermalam-malam. Alasannya hanya satu, agar bisa ngobrol dengan beliau di rumah gebyok kunonya yang asri berikut perabotan-perabotan antik di semua ruangan  yang membuat mata saya tak berkedip. Dengan runutnya beliau menjelaskan tentang dunia pewayangan serta semua hal mengenai sejarah dan budaya.  Bahkan beliau pun menceritakan asal usul nama salah satu cucu-nya “Wilis” yang ternyata adalah salah satu tokoh pewayangan (dengan demikian terbongkar sudah keisengan yang mengatakan nama Wilis diambil  agar mirip dengan nama saya!). 


Kesabarannya membesarkan empat orang lelaki yang sangat patuh dan cinta terhadap orang tua tak sanggup membendung kerinduan beliau terhadap anak bungsunya, anak yang tinggal paling jauh. Duhh… Yangkung rasanya ingin berjanji bisa membawa anak ragilmu (ragil = bungsu. ed.) secepatnya Ada satu kilatan  di mata beliau  ketika akhirnya beliau bisa menatap dan memeluk kembali anak tercintanya... Kilatan sukacita! Kilatan bahagia!


Papa Rock’n’Roll !  Susah  sekali mendeskripsikan bapak yang satu ini, atau lebih tepatnya bingung!  Dia mudah ngiler dengan jam tangan  dan sepatu boots selutut ala rocker, plus punya  hobby download terutama lagu-lagu rock jadul, tak jarang pula mendownload tembang-tembang  Jawa hingga lagu Smash ataupun Cherry Belle untuk anak-anaknya.  Kalau soal cuek, dia nomor satu. Berjalan dengan santai tanpa alas kaki di tengah-tengah keramaian karena sandal yang sebelah putus, sengaja membuat bingung supir taksi yang ditumpanginya, mbak penjaga counter di mall sampai mbak  yang  jualan kopi pinggir jalan pun tidak luput dari keisengannya. Tapi tak sedikit pula wanita - wanita yang  luluh lantak termehek-mehek dengan kecuekan sang “Papa Rock’n’Roll” . Walaupun sudah cukup lama mengenal dia, selalu saja dibuat terkejut dengan segala kenyelenehannya. Ocehan saya yang sebanyak jumlah bintang di langit  pun kalah telak dengan jawabannya yang sangat simple. Speechless ! 


Dari segi usia, bapak yang selalu membuat saya kembali menjejakkan kaki ke tanah ketika khayalan-khayalan di kepala mulai terlalu jauh melambung ini hanya berselisih satu tahun. Tapi dari segi karakter, kami cukup jauh berbeda. Saya seorang pemimpi tingkat tinggi bahkan bisa dikategorikan sangat akut sementara dia adalah sosok yang realistis dan apa adanya. Bapak yang jago pula dalam  urusan menjaili ketiga anak perempuannya, ternyata bisa meleleh seperti lilin yang mencair ketika rindu kepada ibu bapaknya, rindu kampung halamannya. Ia lihai pula dalam menyembunyikan ketegaran dan ketahanan dibalik kecuekannya. Saat dia memutuskan satu hal besar dalam hidupnya bahkan mungkin sebagai seorang laki-laki, tanpa pikir panjang saya mengeluarkan segala rumus, jurus dan pedoman tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang laki-laki, tetapi tak ada satu sanggahan pun yang keluar dari mulutnya. Sikap impulsif itu yang membuat saya menyesal, mungkin jauh di dalam lubuk hatinya ada rasa sakit dengan semua omong kosong yang saya sebutkan, tapi sekali lagi dia hanya menyimpan dan tidak pernah mengungkapkannya. Satu saat nanti saya harus minta maaf atas segala ke-sok-tauan saya yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya berkeluarga dan menjadi orangtua. Ketika anak-anaknya tertawa... Ketika anak-anaknya bisa disuapi dengan lahap... Ketika anak-anaknya mencium ibu bapaknya dengan kasih sayang… Itulah dunianya!


Pipih, panggilan kepada seorang bapak yang cukup berbeda, tapi begitulah saya memanggilnya. Mudah-mudahan saat ini Pipih tersenyum dari atas sana  melihat anak perempuannya yang paling bandel bisa bercerita tentang dirinya. Tanggal lahir terpaut satu hari, dengan bintang yang sama sudah bisa dipastikan bagaimana kami berdua selalu tidak mau mengalah satu sama lain. Saat remaja yang lain dilarang orang tuanya untuk pulang malam, malah saya bebas pulang lewat tengah malam sekalipun. Demokrasi bukan hal yang asing bagi saya, karena kami anak-anaknya diberikan kebebasan untuk berpendapat, juga tidak pernah menyuruh belajar walaupun beliau adalah seorang pengajar. Menurutnya hanya kesadaranlah yang bisa membuat seseorang belajar sepenuh hati. Ketika hati dilambungkan dengan perasaan bahagia karena mendapatkan IP 4, komentar yang saya dapat hanya sebatas “Ahh banyak juga mahasiswa Pipih yang IP-nya 4”. Padahal diam-diam ketika mahasiswanya datang ke rumah dengan bangganya beliau menceritakan bahwa anaknya mendapatkan IP 4. 


Banyak hal-hal lucu tentang Pipih, mulai dari hobby-nya yang tidak malu nangkring dengan tukang becak depan rumah juga dengan santainya memakai kaos olah raga sekolah  sementara saya kelabakan mencari kaos itu. Beliau kerap menjahili tukang-tukang jualan serta selalu saja punya panggilan lain buat mereka, tak jarang pula nimbrung dengan ledekan-ledekan sewaktu mendengar obrolan saya dan teman-teman. Ia seringkali menyelipkan honor mengajarnya di buku-buku yang membuat saya dan ceuceu rajin pura-pura membaca buku-buku padahal berharap Pipih kelupaan mengambil uang dari bukunya. Banyak pula hal-hal yang membuat saya luruh dan ingin memeluknya, beliau yang paling anti dengan segala acara formal ternyata tahan berjam-jam dari pagi hingga sore hanya untuk menunggui saya yang mengikuti test di salah satu perusahaan di ibukota, juga ketika  mengajarkan naik bis kota di Jakarta sementara beliau mengikuti bis yang saya tumpangi dari belakang. Sampai akhir hayatnya Pipih tidak pernah menginginkan sesuatu yang tinggi, bahkan juga tidak tertarik ketika teman-teman seprofesinya bisa menjadi seorang professor. Pipih cukup bahagia hanya dengan  bersarung, merokok, minum kopi sambil mengasuh cucu pertamanya! He’s my nerd but yet proudable dad for me!  


***

Dibalik ketegasan, kesederhanaan, kecuekan bahkan kerasnya seorang bapak, selalu ada sebentuk kasih sayang yang hadir. Walaupun tangannya tidak setiap saat membelai anaknya, walaupun  kasih sayangnya lebih banyak dihadirkan dalam bentuk-bentuk yang lain,  namun setiap perkataan, setiap larangan adalah belaian kasih yang tidak terlihat dan terkadang kita selalu terlambat untuk menyadarinya. Selagi bapak masih ada…Selagi bapak masih bisa melihat dan mendengarkan kita… Katakanlah... Betapa berartinya bapak buat kita... Betapa kita menyayanginya! Hanya dengan cara itulah setiap peluh bapak bisa tergantikan…


“Ayah adalah yang teristimewa di dunia
sebab dari keringatnya
ia memberi tapak
untuk melangkah.”

“Pada setiap napasnya
ayah memancangkan tiang-tiang asa
agar langkahmu sampai pada bianglala

― Abdurahman FaizNadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil

12 komentar:

  1. Father, Bapak, Ayah, Papa, Abah....atau Ama seperti yang sering saya sebut untuk memanggil seseorang yang begitu melekat bayangannya dengan diri saya. Tidak mudah menjalani peran itu....tidak sedikit yang gagal melakonkannya...tapi amat banyak yang sukses menjalankannya. Beruntungnya Dewi bisa ketemu para Great Father...dan terimakasih telah berbagi ceritanya...dengan pemilihan kata yang sederhana tapi begitu jelas menggambarkan setiap kharakter...terus berkarya...!!

    BalasHapus
  2. Sangat indah, saya sangat terispirasi untuk menjadi seorang ayah dengan apa adanya, agar sebutan yg disanding dari anaku sebagai ayah bukan hanya sebutan saja tapi menjadi suri tauladan bagi anak dan keturunan saya, menjadi pelidung bg anak dan istri yg sebenarnya....terima kasih atas kirimannya.,

    BalasHapus
  3. My father is the best one. He never gets angry to me though I did many mistakes. We never talk each other, but I know he loves me. I hope he knows that I really love him with all respect.

    Dian, http://indonesia_ku.blogspot.com/

    BalasHapus
  4. my dear Dewie, aku bahkan tak mengingat ayahku seditail dirimu mengingatnya,aku lupa sampai kamu menulisnya di Best Father I Ever Met!Aku lupa bhw aku jarang berterimakasih padanya...dear Dewie, would u like to tell my father that I love him perfectly....pliiiiisss.

    note:
    Tulisanmu sgt menyentuh. Akhirnya bisa jg nulis...hehe..congratulations anyway, excellent

    BalasHapus
  5. dikarenakan sesama lelaki ,kayanya gw selalu memaklumi apa yg dilakukan bokap gw .. prototype uyung bgt sekali pisan..hehehhee

    BalasHapus
  6. merinding aku bacanya...

    BalasHapus
  7. My best father was someone who taught me about pray and patience that can be my savior...!

    BalasHapus
  8. Sangat indah, saya sangat terispirasi untuk menjadi seorang ayah dengan apa adanya, agar sebutan yg disanding dari anaku sebagai ayah bukan hanya sebutan saja tapi menjadi suri tauladan bagi anak dan keturunan saya, menjadi pelidung bg anak dan istri yg sebenarnya.

    BalasHapus
  9. bener bener menyentuh dah...

    ampe...ampe....kudu pake kanebo nyeka air mata yg jatuh berceceran...uuhh..

    lebay ah...

    salah kenal yah....

    visit my blog too...nuhun

    BalasHapus
  10. Dan anda Risye Dewi Larasati, telah merusak dunia indah rumah tangga dan profil seorang ayah yang baik dari Papa Rock 'n 'Roll dengan menyodorkan tubuh anda, babi lonte !

    BalasHapus
    Balasan
    1. wawww... beneran tuh ?
      bagaimana kabar pipih, pasti tersenyum bangga dari atas sana punya anak perempuan pinter nyodorin tubuhnya....


      Hapus