Blogger Widgets

Selasa, 16 Agustus 2011

Memberi Rasa

oleh: Nunu Vandanoe

Suka masak? Tidak? Tapi mengenal aneka rempah dan bumbu dapur kan? Sungguh tak mengapa jika lengkuas sering tertukar dengan jahe hehehe…akibatnya tidak begitu fatal kok jika dibandingkan salah memasukkan gula yang seharusnya garam ke dalam masakan. Pernah iseng berpikir, mengapa makanan harus dibumbui? Paling tidak dibubuhi garam. Apalagi orang Indonesia dikenal dengan aneka makanan sarat rempah. Sampai pernah mendengar entah di mana saya lupa, Indonesialah yang memberi rasa pada dunia.


Kembali lagi pada pertanyaan iseng saya tadi, mengapa makanan harus diberi bumbu? Hmmm…biar terasa enak? Aha! Rasa! Tak terbayangkan menyantap ayam goreng yang dimasak begitu saja tanpa dilumuri bumbu apa-apa, bahkan garam sekalipun. Warnanya boleh tetap kuning keemasan seperti di iklan-iklan minyak goreng itu ketika diangkat dari penggorengan. Ketika dimakan? Jangankan kenikmatan, tawar saja sepertinya yang terkecap lidah.

Jadi teringat masa-masa magang WWF di Wakatobi. Saya tinggal dan bekerja di kabupaten yang terdiri dari beberapa pulau di provinsi Sulawesi Tenggara, Wakatobi, tepatnya di sebuah pulau sekaligus kecamatan bernama Kaledupa. Dengan seringnya muncul di program-program liburan atau jalan-jalan di televisi, sudah mengidentikkan diri sebagai sebuah daerah dengan kekayaan bawah laut yang berlimpah. Baik untuk memanjakan mata dengan menyelami keindahan terumbu karangnya, atau aneka hidangan hasil laut untuk menyenangkan lidah. Setiap hari makan seafood! Yeah! Tapi tunggu, beragam ikan dengan ukuran raksasa dibandingkan dengan ikan air tawar yang selama ini kami kenal, cumi-cumi, maupun kepiting, bergantian mengunjungi meja makan kami, tetap saja terasa ada yang kurang.

Di Jawa, dengan rempah yang berlimpah segalanya begitu kaya rasa. Termasuk hidangan laut di restoran-restoran seafood. Kepiting saos padang misalnya. Terbayang kan bagaimana cita rasanya? Sementara di Kaledupa? Mereka memang kaya dengan hasil laut, ibaratnya cuma melempar kail setengah gak niat saja, ikan yang di dapat sudah sedemikian banyaknya. Bumbu masakan di sana sangat mahal. Misalnya saja cabe. Jangan harap di pasar tradisional Kaledupa akan menemukan gunungan cabe merah seperti di pasar-pasar serupa di Jawa. Cabe yang mereka kenal adalah sejenis cabe rawit berwarna merah terang dengan ukuran lebih kecil lagi dari cabe rawit biasa. Segenggaman tangan anak kecil harganya seribu rupiah. Belum lagi tomat. Tomat pun menjadi komoditi yang mahal di sana, padahal paling sering digunakan sebagai bahan utama colo-colo (sambal khas dari Indonesia timur). Maka saya dan teman-teman yang bersama-sama berangkat ke sana, sering memutar otak bagaimana caranya ‘memberi rasa’ pada hidangan laut yang disajikan Mama Kepala Dapur. Bukan karena tidak sedap, tapi lebih karena lidah kami sangatlah manja dan ketergantungan pada makanan yang serba berbumbu dan kaya rempah seperti di Jawa. Pernah kami membelikan Mama Kepala Dapur sebotol besar saos tiram dari seberang pulau. Tak jarang pula kami ke pasar untuk membeli banyak persediaan bumbu masak, sekaligus melengkapinya dengan bumbu masak instan dalam kemasan. Dipikir-pikir, saya ini belum bisa diajak susah ternyata hahahaha. Tapi tak apa toh dalam keadaan kecanduan rasa yang akut, kreativitas jadi meningkat. Pernah beramai-ramai di dapur mewujudkan kepiting dengan bumbu saos padang seperti yang selama ini kami idam-idamkan. Bener-bener deh kerja keras untuk mengumpulkan bumbunya sampai lengkap hahaha. Niaaat bener yak? :p

Kamis, 11 Agustus 2011

Sahur


Sahur adalah hal yang paling menarik di setiap bulan puasa, karena seluruh anggota keluarga berkumpul untuk makan di saat dini hari. Bukan di saat jam makan pagi, siang, atau malam. Ya, salah satu hal unik yang aku tunggu di sepanjang tahun.

Kadang sahur juga karena buat ikut berpartisipasi dalam acara keluarga ini, sama sekali bukan karena ingin makan. Ngga ada selera makan di jam setengah 3 dini hari, dengan mata yang di paksa untuk bangun dan segar.

Kita punya teman dari berbagai kalangan, bahkan dari berbagai negara. Mereka selalu ada saat kita butuh apapun, dan sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama teman daripada dengan keluarga. Tapi pada akhirnya, keluarga dalah segalanya. Dan memang benar apa kata pepatah, darah selalu lebih kental daripada air.

Keluarga adalah modal awal pembentukan hidup kita, akar dari kehidupan kita bersama orang lain yang pada awalnya orang asing sampai akhirnya menjadi sesuatu yang berharga yang disebut teman atau sahabat.

Keluarga, adalah hal pertama dan pada akhirnya terakhir kita pulang dari kegiatan kita dengan teman-teman kita di luar sana. Keluarga yang kadang di nomor duakan setelah persahabatan atau pekerjaan. Keluarga yang selalu ada dan selalu terbuka menyambut kita, bahkan ketika kita kita ditinggalkan teman-teman kita.

“WHEN NEED MEET PASSION”

Oleh: Risye Dewi Larasati

Kalo anda merasa familiar dengan judul di atas, bisa saya pastikan anda berasal dari genre 80’an. Kenapa bisa ditarik kesimpulan seperti demikian ? tahun 80’an adalah booming-nya film-film romantis, ada satu film yang sangat lekat di ingatan saya sampai saat ini yaitu “When Harry Meet Sally”. Sebuah komedi romantis di tahun 1989 yang dibintangi oleh Billy Christal dan Meg Ryan, ditambah dengan soundtrack yang dinyanyikan oleh Harry Connick Jr yang mengantarkan dia meraih Grammy award pertamanya untuk kategori Jazz Male Vocal Performance. Bisa dibayangkan betapa  dasyatnya efek film ini buat saya sebagai ABG di era tersebut bahkan mungkin melebihi ketertarikan saya terhadap film “Catatan si Boy”.

Tapi kali ini saya tidak bermaksud membahas tentang film tersebut, lebih tepatnya mungkin sekedar sharing dengan anda semua mengenai perjalanan saya mengendarai sebuah kendaraan yang bernama “Kehidupan”. Saya, terlahir sebagai bungsu dari seorang ayah yang sangat demokratis serta berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan negeri di Bandung dan seorang ibu yang selalu punya akal untuk membantu suaminya mengepulkan asap dapur. Sebagai bungsu, saya tidak pernah diistimewakan, istilahnya kerennya saya mendapatkan “Equal Treatment”dengan kakak perempuan satu-satunya. Saya melewatkan masa remaja dengan peristiwa-peristiwa normal walaupun bukan terbilang anak manis dan penurut, yaahhhh kadang kadang dengan sedikit kebandelan yang masih bisa dibilang normal justru membuat saya merasa lebih hidup.

Kemudian sampailah saya kedalam satu fase yang dinamakan “Pilihan”. Fase pertama untuk hampir semua remaja adalah memilih Universitas beserta Jurusan yang diinginkan. Ada 2 pilihan yang disodorkan kepada saya, jurusan Akuntansi atau jurusan Marketing ? tentu saja karena merasa cukup cerewet saya memilih marketing tapi dengan lihainya ibu saya berhasil menggiring saya untuk memilih jurusan akuntansi (harusnya hal ini bisa saya sadari sewaktu zaman SMA ketika beliau memasukkan saya ke kursus akuntansi – mom you did the good job ! sigh !). But then, the show must go on ! Akhirnya saya bisa lulus dengan nilai yang cukup bagus. Dimulailah perjalanan saya di rimba dunia kerja tanpa saya tahu sebenernya apa yang saya cari.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Tengkyu, Pak Iwan!

Oleh Nunu Vandanoe


Kalau acara ASAL (Asli Apa Palsu) yang dipandu Taufik Savalas masih ada, tentu dia jadi pemenangnya. Miriiip sekali! Aslinya! Tahu kan dulu di SCTV pernah ada acara mirip-miripan selebritis…dan tak disangka, selebritis Indonesia punya banyak ‘kembaran’ ternyata. Salah satu yang paling populer adalah episode ‘Komar’ pelawak itu. Ada beberapa orang yang lolos seleksi dan sangat mendekati sosok pelawak berwajah khas itu. Ah…seandainya saja dia mau ikut acara mirip-miripan tersebut, kami selaku murid-muridnya pasti akan mendukung sepenuh hati, jiwa dan raga sekaligus yakin ainul yakin dia bakal jadi pemenangnya.

Ya, orang yang sering kami sebut mirip dengan pelawak Komar itu adalah guru kami. Guru IPS tepatnya. Meskipun di SMA mata pelajaran IPS sudah dipecah ke dalam beberapa mata pelajaran yang lebih spesifik dan dipegang oleh banyak guru, Pak Iwan ini tetap identik dengan Ilmu Pengetahuan Sosial. Ia kadang mengajar Geografi, di lain waktu Sosiologi, dan pernah pula mengajarkan Antropologi. Paham luar dalam dia ini dengan pengetahuan sosial dan relevansinya di masa kini. 


Bukan jenis guru jenaka dengan tampang kebapakan yang bersahabat dia itu. Killer! Anak sebadung apa pun akan bersedia menunda acara bolosnya demi memenuhi kehadiran di kelas Pak Iwan ini. Badannya boleh mungil, tampang mirip pelawak, tapi bentakannya…Mak! Dahsyat! Bicaranya lugas, jelas, tak jarang pedas! Tapi satu hal yang membuat saya kagum dengan Pak Iwan ini adalah…dia tau betul apa yang dibicarakannya. Anti dia menyuruh murid mencatat, kalaupun acara menulis itu hadir dalam pelajarannya, bukan asal menulis tentu saja.

Jumat, 05 Agustus 2011

Let's the Magic Begin...

Oleh: Reni Wulandari

     Buat ngabuburit, orang lain kebanyakan pada keluar sama teman-teman atau orang tersayangnya. Aku ngabuburitnya siaran di radio, acara ringan dua jam menjelang buka puasa.

    Sebelum siaran aku sholat ashar dulu di ruang produksi, eh nemu DVD film Harry Potter yang judulnya The Sorcerers’s Stone dan The Chamber of The Secret. Wah mimpi kecil jadi kenyataan, aku minta pinjem aja ke owner radio buat di tonton.

    Begitu beres siaran, pulang ke rumah aku pantengin tuh si Harry and the gank. Wah lucu banget, mereka terlihat menggelikan dan seperti enak untuk di gigit. Melihat Harry dan kawan-kawan, juga Malfoy, mengingatkan aku dengan demam Harpot beberapa tahun yang lalu ketika masih duduk di SMP.

    Harry Potter. Yang membuat aku kagum bukan hanya filmnya saja yang box office, tapi juga kepada kreatornya, J.K. Rowling. Aku beberapa kali baca kisah bagaimana dia menulis buku Harry Potter.

Senin, 01 Agustus 2011

Setia Pangkal Sejahtera

Oleh Nunu Vandanoe*


Terus terang saya termasuk tipe orang gak tahan godaan dalam hal membelanjakan uang. Istilah seremnya: boros! Padahal yang dibeli juga bukan barang-barang mahal, cuma printilan-printilan yang gak jelas fungsinya tapi lucu tampangnya. Dududu… Misalnya, kaleng-kaleng cakep aneka bentuk, warna, dan ukuran yang memelas minta dibawa pulang dari sebuah toko kado ;) Saat itu memang pas lagi ada uang, dan harga satu buah kaleng baik yang berukuran besar maupun kecil adalah sama, enam ribu rupiah. Karena saya pada dasarnya gak tegaan :p, kan gak mungkin Cuma beli satu kaleng, sementara kaleng-kaleng yang lain ditinggalkan begitu saja. Tau-tau pas nyampe kasir, saya harus membayar empat puluh delapan ribu rupiah untuk total 8 buah kaleng bekas yang saya beli! Hal yang sama juga sering terjadi ketika saya masuk ke toko buku terus lihat tempat pensil yang bentuknya unik, serutan berbentuk kacang tanah, bahkan buku imut berisi puluhan resep sambel yang sampe sekarang gak pernah dipraktekan satu pun, dibeli juga. Itu belum apa-apa dibandingkan dengan uang yang sudah saya keluarkan untuk membeli banyak sekali awul-awul alias baju-baju second, baik di Tasik maupun di luar kota.

Maaaak, padahal yah seringnya barang-barang lucu itu begitu sampai rumah hanya disimpan sampai bulukan lalu ‘lenyap’ dari penglihatan karena tertimbun rombongan printilan baru yang saya beli di lain waktu. Pernah saya terbengong-bengong mendapati begitu banyak tas-tas kecil berjejalan di lemari baju. Jadi kemana aja saya selama ini?