Blogger Widgets

Kamis, 08 November 2012

Senyum Dahlan

Oleh:  Risye Dewi Larasati 

“Neng….bade senam sareng Pak Menteri” …kalimat  pertama yang dilontarkan mang becak yang saya tumpangi. Entah dari mana mang becak ini menebak,  padahal arah yang saya sebutkan bukan arah ke tempat acara senam, dan baju yang saya pakai pun bukan baju senam. “Tadi wengi aya pak menteri sareng cepot di alun-alun, eta ku hebatnya neng… menteri teh nyetir nyalira”. Euphoria macam apa yang melanda mang becak ini, yang jelas sepanjang kayuhannya terus diikuti dengan cerita semalam nonton wayang bersama bapak menteri. Terselip nada bangga dalam suaranya bahwa dia sudah melihat bapak menteri dari dekat.

Lain mang becak lain pula dengan saya, undangan melalui sms yang saya terima dari penerbit buku pak menteri-lah yang membuat saya dengan rela ikut acara tersebut.  Selanjutnya, momen yang kurang lebih berdurasi satu jam itulah yang akhirnya bisa menjungkir balikan pikiran yang selama ini tertanam dalam otak saya, tertulis dengan plang besar :  apatisme.

Seperti apa sih sosok seorang Dahlan Iskan dimata saya? Jujur setelah peristiwa Mei yang menggemparkan jagat politik Indonesia, saya tidak hapal dan tidak pernah peduli siapa yang menjabat menteri ini atau menteri itu. Toh hapal semua nama menteri–menteri pun tidak merubah kondisi negara ini yang setelah reformasi pun masih banyak carut marutnya. Tak banyak hal yang saya ketahui tentang beliau, yang jelas bapak menteri yang satu ini menjadi buah bibir seantero nusantara setelah aksi heroiknya di salah satu ruas jalan tol di Jakarta. Namun  sayangnya hal tersebut hanya melintas di benak saya tidak meninggalkan kesan apapun. Buat saya aksi yang termasuk heroik itu adalah ketika para pemuda berhasil merobek bendera belanda di Hotel Yamato Surabaya dan mengibarkan bendera merah putih…that’s it…!  

Warga negara seperti apakah saya ? yang jelas saya masih mengaku orang Indonesia sangat cinta dengan negara dan budaya Indonesia tapi sekaligus juga setengah tidak peduli dengan kehidupan berpolitik dan bernegara di negeri ini. Saya bisa dengan santainya meninggalkan TPS sewaktu pemilihan presiden di tahun 2009 hanya karena TPS di kedubes penuh dan akhirnya saya melenggang dan menikmati secangkir kopi di salah satu kedai kopi . Tapi apakah saya benar-benar tidak peduli ? Jauh di dalam lubuk hati, saya tetap menginginkan Indonesia yang  damai dan sejahtera. Namun melihat kenyataan yang ada, problematika negeri ini tak ubahnya seperti bola kusut yang entah ada dimana ujungnya. Saya seorang warga negara biasa , bukan orang kaya dan tidak berkuasa. saya hanya bisa menjalani hidup ini apa adanya dan yang terpenting adalah bagaimana saya bisa bertahan hidup…itu saja !

Mendengar  kegigihan seorang Dahlan Iskan buat saya sebelum hari ini sama seperti fairy tale yang selalu diawali dengan kata kata….once upon a time…..dan hari ini saya bertekad untuk membuktikan fairy tale itu ! Sambil duduk bersama Kang Iwok Abqory mendengarkan  salah satu staff Noura Book penerbit buku “Sepatu Dahlan” bercerita tentang hal-hal lucu tentang sang Inspirator yang terkenal dengan “Manufactoring of Hope” itu, akhirnya tiba juga bapak menteri yang telah ditunggu oleh puluhan orang yang siap bersenam pagi walaupun mungkin sebelumnya sebagian dari mereka seperti saya tidak pernah bersenam pagi sekalipun. Bapak menteri datang dengan satu mobil mewah bersama seorang pengusaha Tasik yang cukup terkenal . Jujur kedatangan bapak menteri dengan memakai mobil mewah sedikit membuyarkan harapan saya, dalam benak saya menteri yang terkenal sederhana itu datang ke tempat acara dengan berjalan kaki. Saya benar- benar sudah masuk dalam fairy tale yang saya ciptakan sendiri.

Kesan pertama yang membuat sedikit kecewa ditambah dengan demam sisa semalam, saya pun hanya duduk selonjoran di depan lobby mall memandang orang-orang yang dengan hebohnya bersenam pagi. Tidak betah hanya berselonjoran, dengan rasa penasaran yang masih tinggi saya menatap dari kejauhan sosok bapak menteri yang sudah berada di stage dengan seorang instruktur senam. Dengan handuk putih yang dililit seenaknya dileher beliau, tiba-tiba senyum kecil terbentuk di bibir saya…lucu juga ya, beliau tampak bersemangat mengikuti gerak gerik sang instuktur sambil terus menerus tersenyum tidak peduli lengak lenggok badannya dilihat oleh puluhan mata, beliau terus bergerak ! Aneh bin ajaib acara senam bersama bapak menteri tiba-tiba menjadi suatu tontonan yang cukup menghibur entah mengapa saya juga tidak tahu yang jelas semua merasa terhibur terbukti dari wajah wajah sumringah yang ada di depan saya.
Photo bersama pak menteri ! Rasanya itu yang diinginkan oleh hampir semua orang yang berada di tempat ini, layaknya seorang selebritis yang sudah makan asam garam, beliau dengan lincahnya memenuhi permintaan photo dan tanda tangan. Lagi-lagi senyum pak menteri berhasil menghipnotis semua orang termasuk saya ! Tak terasa saya masuk ke dalam kumparan orang-orang yang berjejal-jejal menyodorkan buku untuk beliau tanda tangani. Seumur hidup saya tidak pernah meminta tanda tangan seorang penulis walaupun saya termasuk dalam kategori kutu buku, satu-satunya  penulis yang sangat ingin saya temui adalah Pramoedya Ananta Toer yang menurut saya adalah penulis hebat yang pernah dipunyai negeri ini. Tapi sekarang hari ini, saya menyodorkan sebuah buku untuk ditanda-tangani entah untuk alasan apa.

“Siapa namanya?” pertanyaan itu mengembalikan kesadaran saya diantara kerumunan banyak orang. Ternyata beliau masih sempat menanyakan nama saya untuk ditulis dan ditanda-tangani di buku, dalam kondisi yang seramai itu saya pikir beliau hanya akan menanda tangani saja padahal masih ada belasan orang di belakang saya yang masih menunggu giliran dan saya yakin semua akan ditanya hal yang sama.

Lepas dari kerumunan orang yang masih narsis berphoto dengan bapak menteri, tiba-tiba saya teringat pada satu talkshow dari Charles Bonar Sirait mengenai pentingnya “Personal Branding”. Sekali lagi saya menghela napas, pak menteri yang masih asyik dikerumuni di depan sana ternyata secara disadari atau tidak oleh beliau telah berhasil mengukuhkan personal brandingnya di masyarakat. Jujur dan sederhana, dua kata itulah yang mampu diungkapkan apabila orang bertanya tentang beliau. Belum tuntasnya rasa penasaran saya terhadap sosok pak menteri akhirnya membuat saya googling di internet tentang apa dan siapakah beliau sebenarnya.

Saya hanya bisa terpekur menatap layar monitor walaupun bacaan di dalamnya sudah tuntas saya baca. Ada sebersit rasa malu di dalam hati saya, beliau yang usianya jauh di atas saya masih punya mimpi tentang negeri ini dan mau berusaha untuk mewujudkannya. Sementara saya hanya sibuk mengurus diri sendiri dan sibuk berkeluh kesah tentang negeri ini tanpa ada satu usaha apapun. “Bagaimana Indonesia bisa sejahtera, kalau orang kaya-nya hanya 20% ?” itu salah satu statement beliau yang sedikit membuka mata hati dan pikiran saya. Kalau saja lebih dari setengahnya usia produktif masyarakat Indonesia berpikiran tidak peduli sama seperti saya, mau kapan negara ini akan maju ?

Ternyata mimpinya beliau tentang negeri ini diwujudkan dengan menjadi orang besar, orang yang bisa di teladani, orang yang bisa menginspirasi . Ada satu tekad kecil yang tidak terucapkan, satu tekad buat seorang Dahlan Iskan, semangat baru untuk menjadi orang besar !
Dan saya baru sadar bahwa semangat tanpa lelah yang beliau punya itu datang dari senyuman……Ya Senyum Dahlan ! Senyum Dahlan yang tidak pernah berhenti !