“Jangan menyalah
artikan Man Jadda Wa Jadda!“
Itu dialog yang benar-benar mencuri hati dan pikiran saya
ketika menyaksikan film “Negeri 5 Menara”. Walaupun jujur, mungkin karena
keterbatasan durasi, hal-hal essensial yang melecut semangat anak muda untuk “Going Extra Miles!” malah tidak
tergambarkan dengan baik. But at least, film ini bisa menginspirasi kaum muda
di negeri ini.
Di tengah euphoria kalimat-kalimat bijak para motivator
macam Tung DeSem Waringin, Hermawan Kartajaya, James Gwee, Mario Teguh bahkan
hingga anonym tweet-tweet yang bisa anda retweet setiap harinya ,
menasbihkan kalimat ‘Man Jadda Wa
Jadda’ menjadi suatu keharusan. Bahkan jadi satu ciri citra positif
dimana kita tidak boleh menyerah untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita
kita. Tapi disisi lain, apa kabarnya dengan kata ‘Give Up’ alias ‘Menyerah’ yang konotasinya
cenderung negative ?
Entah termakan oleh usia, atau entah karena istilah
kerennya mendapatkan ‘Hidayah’ untuk
lebih bijaksana, atau malah mungkin terlalu ngefans berat dengan lagu-nya Phill
Collin yang “Both sides of story” menjadikan
saya terbiasa untuk menyelami setiap kejadian dengan melihatnya melalui dua
sisi yang berbeda. Bagi saya, Man Jadda Wa Jadda dan Give up alias menyerah
punya kualitas yang sama.
Merasakan menjadi anak muda yang penuh semangat dan tidak
mudah menyerah merupakan salah satu lembaran manis yang pernah saya rasakan.
Dan ketika kemenangan itu ada dalam genggaman, serasa nyawa saya pun bertambah! Tanpa terasa, di pikiran saya sudah terbentuk satu mindset untuk menolak kata
‘menyerah’. Kata menyerah sudah terkubur dalam ambisi-ambisi yang setiap malam
menjadi mimpi saya. Sehingga apapun dilakukan untuk bisa memenangkan perjuangan
mencapai hal-hal yang menurut saya paling tinggi. Sensasi ‘menang’ menjadi candu
yang sungguh merajalela!
Betapa sombongnya saya dengan kemenangan-kemenangan itu, dan
ketika keputusan yang saya pikir terbaik dan cukup menantang ternyata hasilnya
jauh berbeda dengan yang diharapkan, it seems that my life ruin in one night ! Pelan-pelan mimpi saya mulai terkoyak satu
persatu, seperti seorang gladiator yang kalah dalam pertandingan I was
feel so terrible sad and frustrated!
Namun Tuhan memang Maha Adil! Di tengah kegalauan yang
menimpa, I just realize that I have an incredible Mother! Dia selalu ada di setiap tetesan airmata
kekalahan saya. Ketidak-relaan untuk menerima kekalahan sedikit demi sedikit
terhapus oleh kalimat-kalimat bijaknya yang sangat sederhana. Mulai dari ajakan
untuk mengambil wudhu dan sholat ketika kerisauan
melanda sampai petuahnya untuk tetap tegak berdiri dan tetap melanjutkan
perjuangan dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan berpasrah diri.
Lambat laun saya menyadari arti sebenarnya dari kata
menyerah, seperti kata bijak yang sudah saya hafal ‘Menyerah bukan berarti kalah’.
Kali ini saya benar-benar bisa memaknai kalimat itu. Sama hal-nya dalam suatu
pertandingan balap mobil dimana para pembalap memerlukan pit stop entah itu
untuk mengisi bahan bakar ataupun mengganti ban untuk memulihkan kondisi
kendaraan agar bisa melaju kencang dan memenangkan pertandingan walaupun harus
melambat serta kehilangan beberapa waktu untuk proses penggantian. Perjuangan
hidup pun demikian halnya!
Arti menyerah pun sekarang sudah berbeda maknanya bagi saya,
menyerah adalah jeda bagi kita agar bisa berpikir lebih jernih serta mengkaji
langkah-langkah kita sebelumnya untuk selanjutnya kita menyusun strategi baru
demi memperjuangkan kembali tujuan dan impian kita dengan langkah serta cara
yang lebih bijaksana. Satu lagi hal penting dari pelajaran menyerah yang saya
dapatkan adalah ‘Ketenangan’. Ketenangan dalam menjalani semua proses
kehidupan menjadi rem yang sangat handal bagi kita. Dan memang semua akan
terasa indah pada waktunya, saya pun tidak menyesali semua kekalahan ini karena
saya yakin dibalik setiap kejadian ada hal-hal indah yang akan kita dapatkan.
There’s always a rainbow after the storm!
Dan… Sai’d memang
benar… ”Jangan menyalah-artikan Man Jadda Wa Jadda”!
