Blogger Widgets

Senin, 09 April 2012

Give Up !


 “Jangan menyalah artikan Man Jadda Wa Jadda!“
Itu dialog yang benar-benar mencuri hati dan pikiran saya ketika menyaksikan film “Negeri 5 Menara”. Walaupun jujur, mungkin karena keterbatasan durasi, hal-hal essensial yang melecut semangat anak muda untuk “Going Extra Miles!” malah tidak tergambarkan dengan baik. But at least, film ini bisa menginspirasi kaum muda di negeri ini.

Di tengah euphoria kalimat-kalimat bijak para motivator macam Tung DeSem Waringin, Hermawan Kartajaya, James Gwee, Mario Teguh bahkan hingga anonym tweet-tweet yang bisa anda retweet setiap harinya , menasbihkan  kalimat ‘Man Jadda Wa Jadda’ menjadi suatu keharusan. Bahkan jadi satu ciri citra positif dimana kita tidak boleh menyerah untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita kita. Tapi disisi lain,   apa kabarnya dengan kata ‘Give Up’ alias ‘Menyerah’ yang konotasinya cenderung negative ?

Entah termakan oleh usia, atau entah karena istilah kerennya mendapatkan ‘Hidayah’  untuk lebih bijaksana, atau malah mungkin terlalu ngefans berat dengan lagu-nya Phill Collin yang “Both sides of story” menjadikan saya terbiasa untuk menyelami setiap kejadian dengan melihatnya melalui dua sisi yang berbeda. Bagi saya, Man Jadda Wa Jadda dan Give up alias menyerah punya kualitas yang sama.

Merasakan menjadi anak muda yang penuh semangat dan tidak mudah menyerah merupakan salah satu lembaran manis yang pernah saya rasakan. Dan ketika kemenangan itu ada dalam genggaman, serasa nyawa saya pun bertambah! Tanpa terasa, di pikiran saya sudah terbentuk satu mindset untuk menolak kata ‘menyerah’. Kata menyerah sudah terkubur dalam ambisi-ambisi yang setiap malam menjadi mimpi saya. Sehingga apapun dilakukan untuk bisa memenangkan perjuangan mencapai hal-hal yang menurut saya paling tinggi. Sensasi ‘menang’ menjadi candu yang sungguh merajalela!

Betapa sombongnya saya dengan kemenangan-kemenangan itu, dan ketika keputusan yang saya pikir terbaik dan cukup menantang ternyata hasilnya jauh berbeda dengan yang diharapkan, it seems that my life ruin in one night !  Pelan-pelan mimpi saya mulai terkoyak satu persatu, seperti seorang gladiator yang kalah dalam pertandingan I was feel so terrible sad and frustrated!

Namun Tuhan memang Maha Adil! Di tengah kegalauan yang menimpa, I just realize that I have an incredible Mother!  Dia selalu ada di setiap tetesan airmata kekalahan saya. Ketidak-relaan untuk menerima kekalahan sedikit demi sedikit terhapus oleh kalimat-kalimat bijaknya yang sangat sederhana. Mulai dari ajakan untuk mengambil wudhu dan  sholat ketika kerisauan melanda sampai petuahnya untuk tetap tegak berdiri dan tetap melanjutkan perjuangan dengan penuh keikhlasan, kesabaran  dan berpasrah diri.

Lambat laun saya menyadari arti sebenarnya dari kata menyerah, seperti kata bijak yang sudah saya hafal ‘Menyerah bukan berarti kalah’. Kali ini saya benar-benar bisa memaknai kalimat itu. Sama hal-nya dalam suatu pertandingan balap mobil dimana para pembalap memerlukan pit stop entah itu untuk mengisi bahan bakar ataupun mengganti ban untuk memulihkan kondisi kendaraan agar bisa melaju kencang dan memenangkan pertandingan walaupun harus melambat serta kehilangan beberapa waktu untuk proses penggantian. Perjuangan hidup pun demikian halnya!

Arti menyerah pun sekarang sudah berbeda maknanya bagi saya, menyerah adalah jeda bagi kita agar bisa berpikir lebih jernih serta mengkaji langkah-langkah kita sebelumnya untuk selanjutnya kita menyusun strategi baru demi memperjuangkan kembali tujuan dan impian kita dengan langkah serta cara yang lebih bijaksana. Satu lagi hal penting dari pelajaran menyerah yang saya dapatkan adalah ‘Ketenangan’. Ketenangan dalam menjalani semua proses kehidupan menjadi rem yang sangat handal bagi kita. Dan memang semua akan terasa indah pada waktunya, saya pun tidak menyesali semua kekalahan ini karena saya yakin dibalik setiap kejadian ada hal-hal indah yang akan kita dapatkan. There’s always a rainbow after the storm!

Dan… Sai’d memang benar… ”Jangan menyalah-artikan Man Jadda Wa Jadda”!

Minggu, 04 Maret 2012

‘Batu Loncatan’ Itu Bernama Televisi

Oleh: Nunu Vandanoe

Buset! Baca judul di atas jangan-jangan yang kepikiran adalah berbagai macam upaya orang untuk sukses dengan cara masuk tivi. Boleh aja sih mikir begitu... hihihi... Tapi saya sih saat ini lagi gak pengen ngobrolin yang seriusan begitu. Cuma ingin cerita tentang televisi ukuran 21 inch merek Konka (btw, itu bikinan Cina, Jepang, apa Korea ya? #pentiiing, hihi...) yang telah beralih fungsi menjadi ‘batu loncatan’ buat kucing saya, Ninis. Jadi ya, dia itu kalau mau main ke tempat teman-temannya di gang belakang rumah suka males lewat jalan ‘seharusnya’ yang mana kudu muter ke depan rumah baru melipir ke gang. Dia pinter dong membaca situasi dan kondisi plus properti yang bisa dimanfaatkan sebagai jalan pintas. Maka loncatlah dia ke atas televisi lalu loncat lagi ke lubang di plavon lalu tadaaaa…sampai deh di atap rumah. Habis itu dia tinggal loncat lagi ke atap-atap rumah lain yang kebetulan berdempetan sama rumah kita itu.

Jadi… Bagaimana ceritanya itu tivi bisa jadi kerdil begitu fungsinya?

Kamis, 03 November 2011

Best Fathers I Ever Met!

   Oleh: Risye Dewie Larasati


Lembaran terakhir dari novelnya Arswendo Atmowiloto yang berjudul “Dua Ibu” memberikan pemahaman yang lebih tentang arti seorang ibu. Sekalipun tidak mengandung dan melahirkan anaknya, kasih sayang, cinta, dan pengorbanan seorang ibu dengan segala ketulusan hati menjadi sedemikian dashyatnya. Selain ibu yang begitu berarti untuk seorang anak, ada sosok lain yang tak lepas dari kehidupan kita sebagai manusia. Belahan jiwa ibu…Tumpuan hidup ibu…Bapak…Ya, Bapak ! 


Seperti apakah seorang bapak yang anda ingat? Apakah seperti yang dikatakan Ikal dalam Novelnya Andrea Hirata, “ Namun ayahku, ayah juara satu seluruh dunia, arsitek kasih sayang yang tak pernah bicara, selalu mampu mengubah hal-hal sederhana menjadi begitu mempesona”, ataukah sesederhana ayah Alif Fikri dalam novel 5 Menara, atau bahkan mungkin mirip Pak Bei alias Raden Ngabehi Sestrokusuma yang begitu berkuasa di novel Canting-nya Arswendo Atmowiloto? Selalu ada cerita tentang bapak, bahkan ketika rangkaian kata pun tidak mampu untuk mengungkapkan. Ada detak yang tetap bisa dirasakan apabila ingatan tentangnya mengaliri benak anda. Tidak hanya bapak kandung saja, ada bapak-bapak lain yang hadir memberi arti, menuntun serta menunjukkan kepada saya arti hidup dan kehidupan.


Inilah bapak-bapak terbaik yang saya temui!

Kamis, 27 Oktober 2011

Sahabat Bikin Kuat

Oleh : Nunu Vandanoe


Saling berkirim pesan singkat sungguh amat terasa berharga ketika jarang saling menyapa di situs jejaring sosial yang merajalela. Setidaknya bagi saya. Tadi sore saya menyapanya, bertanya kabar dan membagi kangen. Sahabat yang saya kenal sejak SMA kelas dua ini (dia murid pindahan) adalah seorang perempuan yang bekerja di sebuah bank swasta di kotanya, Purwakarta. Yang menarik hati saya, sejak kami masih remaja, dia tidak henti-henti membuat inovasi. Ada saja yang dibuat atau dilakukannya. Bahkan setelah bekerja tetap sebagai sekretaris di sebuah bank swasta pun, inovasinya tak terhenti.

Rabu, 07 September 2011

Being 30’s ?! Let’s Get Rock !


Berawal dari kebosanan menonton program-program TV yang isinya tidak jauh dari sinetron serta gosip infotainment, akhirnya pilihan pun jatuh pada program TV cable. But too bad,  kok hampir semua channel isinya program “Chef-Chef”-an yang sedang marak akhir-akhir ini dan tentu saja sudah merambah pula ke program TV nasional kita. Media yang seharusnya kreatif sudah menjadi tidak kreatif karena permintaan pasar (sigh….!). Namun tiba-tiba secara tidak sengaja saya melihat satu sosok yang sangat familiar di ingatan saya, Omigod…ternyata Alec Baldwin ! Siapa sich yang tidak kenal Alec Baldwin ? Aktor ganteng yang sangat populer di era 90-an sekaligus suami dari aktris sexy Kim Bassinger.  Dia bermain untuk salah satu sitkom di NBC yang berjudul 30’s Rock. Sitkom dengan setting 30 Rockefeller Plaza Newyork yang berkisah tentang seluk beluk dunia per-televisian. Sountrack dengan nuansa jazz dimana suara clarinet, bass,saxophone serta string yang cukup kental ditambah lagi dengan vocal Gladys Knight & The Pips membuat sitkom ini menjadi satu tontonan yang enak untuk dinikmati.

Ada sesuatu diantara kunyahan keripik kentang dan akting Alec Baldwin yang mengantarkan dia meraih Emmy Award plus  2 Golden Globe untuk sitkom ini. Ada yang tiba-tiba terlintas di benak saya, berhungan dengan with 30-an’ . Ehmm ..Oke…I’m in middle of 30’s and single ! Usia dan status yang sering kali dipertanyakan oleh emak bapak, kakek-nenek, om-tante, sepupu, keponakan…Bahkan mungkin ketua RT dan ketua RW pas waktunya perpanjangan KTP.. (another sigh…!). Kalo saja ada survey tentang usia berapakah yang paling menakutkan bagi wanita, bisa dipastikan sebagian besar akan menyebutkan usia 30-an. Oke…Let’s try to find out about being 30’s !

Selasa, 16 Agustus 2011

Memberi Rasa

oleh: Nunu Vandanoe

Suka masak? Tidak? Tapi mengenal aneka rempah dan bumbu dapur kan? Sungguh tak mengapa jika lengkuas sering tertukar dengan jahe hehehe…akibatnya tidak begitu fatal kok jika dibandingkan salah memasukkan gula yang seharusnya garam ke dalam masakan. Pernah iseng berpikir, mengapa makanan harus dibumbui? Paling tidak dibubuhi garam. Apalagi orang Indonesia dikenal dengan aneka makanan sarat rempah. Sampai pernah mendengar entah di mana saya lupa, Indonesialah yang memberi rasa pada dunia.


Kembali lagi pada pertanyaan iseng saya tadi, mengapa makanan harus diberi bumbu? Hmmm…biar terasa enak? Aha! Rasa! Tak terbayangkan menyantap ayam goreng yang dimasak begitu saja tanpa dilumuri bumbu apa-apa, bahkan garam sekalipun. Warnanya boleh tetap kuning keemasan seperti di iklan-iklan minyak goreng itu ketika diangkat dari penggorengan. Ketika dimakan? Jangankan kenikmatan, tawar saja sepertinya yang terkecap lidah.

Jadi teringat masa-masa magang WWF di Wakatobi. Saya tinggal dan bekerja di kabupaten yang terdiri dari beberapa pulau di provinsi Sulawesi Tenggara, Wakatobi, tepatnya di sebuah pulau sekaligus kecamatan bernama Kaledupa. Dengan seringnya muncul di program-program liburan atau jalan-jalan di televisi, sudah mengidentikkan diri sebagai sebuah daerah dengan kekayaan bawah laut yang berlimpah. Baik untuk memanjakan mata dengan menyelami keindahan terumbu karangnya, atau aneka hidangan hasil laut untuk menyenangkan lidah. Setiap hari makan seafood! Yeah! Tapi tunggu, beragam ikan dengan ukuran raksasa dibandingkan dengan ikan air tawar yang selama ini kami kenal, cumi-cumi, maupun kepiting, bergantian mengunjungi meja makan kami, tetap saja terasa ada yang kurang.

Di Jawa, dengan rempah yang berlimpah segalanya begitu kaya rasa. Termasuk hidangan laut di restoran-restoran seafood. Kepiting saos padang misalnya. Terbayang kan bagaimana cita rasanya? Sementara di Kaledupa? Mereka memang kaya dengan hasil laut, ibaratnya cuma melempar kail setengah gak niat saja, ikan yang di dapat sudah sedemikian banyaknya. Bumbu masakan di sana sangat mahal. Misalnya saja cabe. Jangan harap di pasar tradisional Kaledupa akan menemukan gunungan cabe merah seperti di pasar-pasar serupa di Jawa. Cabe yang mereka kenal adalah sejenis cabe rawit berwarna merah terang dengan ukuran lebih kecil lagi dari cabe rawit biasa. Segenggaman tangan anak kecil harganya seribu rupiah. Belum lagi tomat. Tomat pun menjadi komoditi yang mahal di sana, padahal paling sering digunakan sebagai bahan utama colo-colo (sambal khas dari Indonesia timur). Maka saya dan teman-teman yang bersama-sama berangkat ke sana, sering memutar otak bagaimana caranya ‘memberi rasa’ pada hidangan laut yang disajikan Mama Kepala Dapur. Bukan karena tidak sedap, tapi lebih karena lidah kami sangatlah manja dan ketergantungan pada makanan yang serba berbumbu dan kaya rempah seperti di Jawa. Pernah kami membelikan Mama Kepala Dapur sebotol besar saos tiram dari seberang pulau. Tak jarang pula kami ke pasar untuk membeli banyak persediaan bumbu masak, sekaligus melengkapinya dengan bumbu masak instan dalam kemasan. Dipikir-pikir, saya ini belum bisa diajak susah ternyata hahahaha. Tapi tak apa toh dalam keadaan kecanduan rasa yang akut, kreativitas jadi meningkat. Pernah beramai-ramai di dapur mewujudkan kepiting dengan bumbu saos padang seperti yang selama ini kami idam-idamkan. Bener-bener deh kerja keras untuk mengumpulkan bumbunya sampai lengkap hahaha. Niaaat bener yak? :p

Kamis, 11 Agustus 2011

Sahur


Sahur adalah hal yang paling menarik di setiap bulan puasa, karena seluruh anggota keluarga berkumpul untuk makan di saat dini hari. Bukan di saat jam makan pagi, siang, atau malam. Ya, salah satu hal unik yang aku tunggu di sepanjang tahun.

Kadang sahur juga karena buat ikut berpartisipasi dalam acara keluarga ini, sama sekali bukan karena ingin makan. Ngga ada selera makan di jam setengah 3 dini hari, dengan mata yang di paksa untuk bangun dan segar.

Kita punya teman dari berbagai kalangan, bahkan dari berbagai negara. Mereka selalu ada saat kita butuh apapun, dan sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama teman daripada dengan keluarga. Tapi pada akhirnya, keluarga dalah segalanya. Dan memang benar apa kata pepatah, darah selalu lebih kental daripada air.

Keluarga adalah modal awal pembentukan hidup kita, akar dari kehidupan kita bersama orang lain yang pada awalnya orang asing sampai akhirnya menjadi sesuatu yang berharga yang disebut teman atau sahabat.

Keluarga, adalah hal pertama dan pada akhirnya terakhir kita pulang dari kegiatan kita dengan teman-teman kita di luar sana. Keluarga yang kadang di nomor duakan setelah persahabatan atau pekerjaan. Keluarga yang selalu ada dan selalu terbuka menyambut kita, bahkan ketika kita kita ditinggalkan teman-teman kita.